Photos Gallery

yiyi, mommy, nyunyu rodma ucit's bday philo art space berenang dma,djaduk,tegoeh anjas,dma maya,virny,dma eka di "kafe betawi":) djenar-yiyi Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 7 Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 6
View more photos >
 

SURAT BUAT DJENAR MAESA AYU by Totot Indrarto

Jan 10

Dear Monyet,

Selamat natal dan tahun baru 2010!

Ini mungkin bakal jadi tahun yang tidak mudah buat kamu, terutama setelah Mereka Bilang, Saya Monyet! memenangkan tiga Piala Citra dan satu Penghargaan Khusus Dewan Juri dalam FFI 2009. Sekarang pasti banyak orang sedang menunggu film kedua kamu. Eh… persisnya, film berikutnya, karena sebetulnya kamu sudah menyelesaikan film kedua, yang sejak awal memang tidak akan diputar untuk umum di Indonesia.

Hahaha, iya, iya, saya memang masih punya utang sama kamu: membuat catatan mengenai film yang dibuat di Pelabuhan Ratu hanya dalam lima hari pengambilan gambar itu.

Dear Monyet,

Kamu memang sialan.

Belum pernah saya melihat suasana seperti di Oktroi, Kemang, malam itu, dua hari menjelang awal Ramadhan tahun lalu. Iya, malam saat private screening Saia, film kedua kamu, berakhir. Setelah credit title terakhir hilang, layar gelap, dan lampu dinyalakan lagi, semua orang di dalam ruangan diam terpaku di tempat duduk masing-masing. Sebagian menarik napas panjang, seperti baru terbebas dari jebakan situasi yang tidak menyenangkan. Tidak ada tepuk tangan panjang seperti biasa terjadi usai pemutaran perdana film baru. Padahal, seperti kamu bilang dalam sambutan sebelum film diputar, undangan yang hadir malam itu bukanlah orang-orang asing: para maestro yang kamu hormati, guru-guru yang telah membesarkan kamu, dan teman-teman terdekat kamu saja.

Di depan pintu keluar ruangan, saat menerima salam dan selamat dari mereka, kamu menemukan wajah-wajah yang dingin, atau kosong, atau bingung. Sebagian berusaha bersikap manis untuk menutupi perasaan yang sesungguhnya. Tapi kamu tahu, mereka semua kesulitan memberikan respons yang pantas pada kamu (sebagai produser, penulis, sutradara, dan pemeran utama) setelah menonton Saia. Tentu saja, tidak satu pun menunjukkan ketidaksukaannya — meski sebetulnya memang tidak suka pada film itu — selain sebelumnya sudah dijamu makan malam enak, terutama karena mereka tahu dirinya adalah orang-orang yang kamu cintai hingga dipercaya menonton Saia, film yang tidak akan bisa ditonton orang Indonesia lain di negaranya sendiri. Kedekatan itu pula yang membuat mereka tidak sampai hati berbohong, misalnya berpura-pura bertepuk tangan dan memuji-muji kamu, padahal tidak tahu buat apa tepuk tangan dan pujian itu.

Sia-sia juga kamu memaksa beberapa teman untuk berkata apa adanya. Aten (Bagus Takwim), filsuf Coffeewar yang biasanya cerdas “membaca” pelbagai fenomena sosial, budaya, dan politik, pun gelagapan ketika kamu desak, “Lu jujur, Ten. Jelek ya?” Sambil mengelak ia bilang, “Gak bisa begitu dong! Gak segampang itu bilang jelek atau bagus!”

Mungkin Aten benar. Tidak seperti film lain pada umumnya, Saia bukanlah film yang gampang “dibaca”, apalagi langsung divonis bagus atau jelek. Waktu mengambil ransel dari mobil Mas JB Kristanto, karena kamu memaksa saya ikut ke Coffeewar seusai pemutaran, kritikus film senior itu juga mengelak berkomentar dengan mengatakan, “Pusing gue. Gerakan kameranya bikin gue pusing.” Hahaha. Biasanya, seusai menonton film baru, saya dan Mas Kris langsung terlibat diskusi seru sampai tidak sadar tahu-tahu sudah harus berpisah. Sekali ini, seperti Aten dan temen-teman lain, Mas Kris tampaknya juga membutuhkan sedikit waktu buat mencerna, apa maunya Djenar dengan film itu?

Beberapa minggu setelah itu saya berjumpa Seno Joko Suyono. Ketika saya singgung soal Saia, ia terus mengelak berkomentar. Padahal, kita tahu, wartawan yang terobesi memfilmkan pikiran-pikiran Ahmad Wahib itu adalah pecinta berat art films, yang biasanya justru susah “dibaca” oleh kita-kita yang tidak secanggih dia ini. Ujung-ujungnya ia malah menyuruh saya menulis untuk Koran Tempo. “Satu halaman, nanti aku muat,” katanya. Halah. Saya gantian mengelak, “Gue terlalu deket sama film itu. Apa pun yang gue tulis, pasti bias.”

Kembali ke malam itu. Di Coffeewar, sambil menikmati wine pemberian kamu (sementara kamu tetap lebih suka bir), saya mulai memperbincangkan Saia dengan Aten, Yogi, Aji (Ismail Fajrie Alatas), Laksmi Pamuntjak, Ucu Agustin, dan Richard Oh. Sayang, beberapa filsuf Coffeewar (Robertus Robert, Tommy F. Awuy, Mas Sardono W. Kusumo) langsung pulang usai menonton. Beberapa lagi (Garin Nugroho, Alex Komang) tak bisa datang menonton. Di tengah obrolan itu, Mbak Niniek L. Karim dalam perjalanan pulang menelpon khusus buat membicarakan film yang baru usai ditontonnya. Sepuluh menit kemudian obrolan terhenti karena ia sudah sampai rumah. Tapi beberapa menit kemudian masuk SMS darinya: “Kapan-kapan ngobrolin Saia yuuuk!” Saya usulkan buat mengajak juga Aten dan Tommy. “Yuuup. Aku undang kalian makan di Mang Engking UI ya?” balasnya.

Begitulah. Kendati awalnya terlihat alot, perlahan-lahan teks Saia mulai terurai. Jika di awal semua cuma membisu (mungkin sedang berpikir keras), dalam obrolan-obrolan malam itu Aten, Yogi, Aji, Laksmi, Ucu, dan Mbak Niniek mulai bisa membagi hasil “pembacaan” masing-masing atas film itu. Menarik, tentu saja, karena masing-masing membawa perspektif dan subyektivitasnya sendiri.

Lima hari kemudian, sesuai jadi pembicara Diskusi Ramadhan di Salihara, Aji mengatakan sudah menulis Note soal Saia di Facebook. “Tinggal diedit, nanti gue tag,” katanya. Meski Aji ngotot bilang bukan “pembacaan” atas film itu, melainkan sekadar catatan mengenai beberapa bagian dalam Saia, dan di akhir tulisan ia menuliskan “Catatan ini bukan dimaksudkan sebagai resensi film Saia. Ini hanyalah renungan dan refleksi bebas”, inilah tulisan pertama (dan satu-satunya sampai sekarang) yang berusaha “membaca” dan menguliti teks Saia dengan kedalaman yang menakjubkan. Aji, filsuf Coffeewar yang sudah kembali ke Michigan untuk mengambil doktor sejarah dan antropologi, memang orang yang tepat buat melakukan kerja intelektual begitu.

Tapi saya malah lupa menagih Aten untuk melakukan hal yang sama. Di Salihara ia bilang, “Liat nanti deh!” Tidak mungkinlah ia, yang bersama Niniek L. Karim sejak 2003 menulis analisis profil psikologi calon presiden/wakil presiden RI sepanjang berhalaman-halaman di Kompas, tidak mampu menuliskan hasil “pembacaan”-nya atas film sepanjang 80 menit karya sutradara magang yang baru dua kali membuat film.

Dear Monyet,

Kamu memang bandel.

Salah satu distorsi yang mungkin menyulitkan kawan-kawan kita yang cerdas itu dalam “membaca” Saia barangkali karena film ini sangat personal dan subyektif. Tentu, seperti berkali-kali saya bilang, tidak ada yang salah dengan subyektivitas dalam berkarya. Bukankah kesenian punya paradoksnya sendiri: makin subyektif sebuah karya biasanya makin bagus hasilnya.

Dibanding Mereka Bilang, Saya Monyet!, film kedua ini jauh lebih personal dan subyektif. Ini memang mengejutkan saya. Film Monyet adalah puncak dari semua kegelisahan dan kemarahan kamu — kita sama-sama tahu itu. Kegelisahan dan kemarahan itulah dorongan dan inspirasi terbesar kamu dalam menulis (cerpen, novel) dan membuat film. Setelah membuat film itu, kamu berulang kali bilang, “Gue udah selesai, Nyet! Selesai!” Saya juga melihat luka lama itu — pasca Mereka Bilang, Saya Monyet! — tampaknya sudah benar-benar kering dan sembuh.

Itu artinya, sebagai penulis dan pembuat film, kamu mulai memasuki fase baru. Ini memang fase yang tidak mudah, terutama karena mungkin seumur hidup belum pernah kamu lakukan. Fase di mana kamu akan berkarya membuat tulisan dan film yang berjarak dengan diri kamu, tidak lagi personal seperti sebelumnya. Dan kamu rupanya sudah siap, terbukti dengan menerima “pesanan” menulis novel Ranjang. Selanjutnya, saya tinggal menunggu sebentar lagi kamu akan membuat film komersial, berangkali berjudul Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.

Sampai tiba-tiba suatu malam di Coffeewar kamu menarik saya ke pojok, membuka Powerbook, dan memperlihatkan draft awal skenario Saia. Aduuuh, kok begini lagi sih, Nyet? Sambil menyetel pikiran agar tidak buru-buru skeptis, saya baca beberapa kali skenario pendek — terpendek yang pernah saya lihat — itu. Bukan karena sulit memahami apa yang kamu tulis (tersurat), tetapi karena memang tidak mudah “membaca” apa yang sebetulnya mau kamu ungkapkan (tersirat). Apalagi, kamu tipikal orang yang tidak suka, atau tidak mau, gampang “dibaca” karya-karyanya.

Mewakili pertanyaan penonton awam, sebetulnya buat apa kita menonton film yang bercerita mengenai pengalaman-pengalaman personal pembuatnya, yang seringkali didramatisasi sedemikian rupa hingga terasa asing dan tidak connect dengan pengalaman pribadi kita?

Jawabnya, karena melalui pengalaman-pengalaman personal itu sesungguhnya si pembuat film sedang ingin berbagi (sharing). Yang dibagi bukanlah pengalamannya itu sendiri, melainkan hal-hal baik yang diperoleh dari pengalamannya: perspektif, pencerahan, kesadaran, pelajaran, solusi, kearifan, dan apapun juga.

Mengambil contoh pengalaman pecandu narkoba, tidak terlalu penting bagi kita bersimpati terhadap penderitaan yang dialaminya, namun barangkali bermanfaat jika mengetahui hal-hal yang dirasakan dan dipikirkannya dalam penderitaan itu — yang tak bisa dipahami orang yang tidak mengalaminya sendiri. Sesuatu yang mungkin bakal membuat kita berpikir jutaan kali buat menyentuh narkoba. Melalui estetika film yang baik dan terjaga, sharing semacam itu bisa berlangsung secara subtil dan sublim, alias tidak telanjang dan verbal.

Dengan kata lain, di sini gagasan atau makna yang tersirat lebih berharga daripada deskripsi yang tersurat. Teks lebih penting ketimbang cerita. Yang dinyatakan lebih esensial dari yang dikatakan. “Apa yang didapat” (dari pengalaman itu) lebih beguna dari “apa yang dialami” (dalam pengalaman itu).

Ah, sekarang sedikit-sedikit saya mulai bisa memahami situasi di Oktroi, Kemang, malam itu.

Sangat mudah mencerna yang tersaji di layar: sepasang perempuan dan laki-laki hampir sepanjang film, kecuali pada bagian kamera sedang mengisi batere dan scene terakhir, melulu beradegan seks. Twist di akhir film juga bukan teka-teki yang sulit, meski jawabannya tidak harus seragam. Ada yang melihatnya sebagai metafora dari trauma, split personality, voyeurism, dan lain-lain. Saya tahu, kamu malah lebih suka begitu. Makin luas interpretasi, makin beragam persepsi, makin senang kamu, setidaknya sebagai penegasan bahwa karya kamu tidak gampang “dibaca”.

Respons penonton terhadap peristiwa sederhana itu juga beragam. Banyak yang bosan, bahkan mengantuk, mungkin diam-diam tertidur. Banyak yang merasa seperti membuang-buang waktu saja. Banyak juga yang merasa serba tanggung. Sebagai film seks, kurang vulgar dan merangsang. Sebagai film pembalasan dendam, kurang ekstrem, misalnya sampai si perempuan memotong alat vital laki-laki lalu menggoreng dan memakannya seperti banyak film sinting dari Jepang.

Namun di luar kesan yang serba permukaan tersebut, semua undangan malam itu keluar ruangan dan pulang dengan membawa satu pertanyaan besar. Pertanyaan tak terjawab itulah yang barangkali menyebabkan mereka tidak sanggup bertepuk tangan pada akhir film. Pertanyaan yang sampai hari ini belum juga terjawab. Apa sebetulnya yang sedang ingin dinyatakan oleh Djenar melalui cerita seks tersebut?

Dalam bahasa Mama kamu, Tante Farida Feisol, “Saya tahu Djenar tidak sedang sekadar membuat film seks. Tapi saya gak tau, apa itu?”

Dear Monyet,

Kamu memang sinting.

Di mata saya selama ini, cara berpikir dan etos kerja kamu lebih mirip seniman dibanding penulis atau pembuat film biasa. Kamu, misalnya, begitu terobsesi pada estetika, dengan selalu memikirkan cara-cara yang lebih baru, lebih segar, dan lebih menarik buat menceritakan gagasan kamu. Buat kamu, cara bercerita sama atau bahkan lebih penting dari apa yang diceritakan.

Kamu juga saya bilang seniman karena kamu — selain dengan pertimbangan-pertimbangan rasional — seringkali tanpa sadar (instingtif) mereproduksi makna, simbol, metafora, dan lain-lain, buat menjelaskan sekaligus menyamarkan gagasan yang mau diungkapkan. Di samping karena memang dasarnya tidak pernah mau menjelas-jelaskan segala sesuatu, itu juga cocok dengan “teori” bahwa seni adalah dunia terobosan, eksplorasi, dan interpretasi.

Tapi, segandrung apapun terhadap cara ungkap baru, kamu mestinya mengerti bahwa cara dan kemampuan penonton “membaca” film sangat dipengaruhi kebiasaan, pengetahuan, dan pengalamannya.

Sebutan apa selain sinting yang paling pas buat kamu, karena datang dengan ide cara ungkap yang tak lazim. Di tengah masyarakat yang sangat verbal, kamu malah membuat film yang sama sekali tanpa dialog. Di tengah kemajuan teknologi sinematografi yang makin pesat, kamu malah membuat film sepanjang 80 menit hanya dengan satu rekaman gambar panjang dan statis. Di tengah bangsa yang masih memandang seks sebagai tabu besar, kamu malah membuat film yang dengan santai dan masa bodoh menampilkan adegan seks seolah-olah sekadar aktivitas biasa seperti olahraga, menyanyi, dan sebagainya.

Toh, sejujurnya, setelah mengikuti terus perkembangan skenario sampai saat pengambilan gambar, saya diam-diam makin mengagumi estetika yang kamu kembangkan itu sebagai sebuah gagasan brilian. Bercerita hanya melalui cerita seks yang simpel, tanpa dialog, dalam satu continuous shot — selain cocok dengan kebutuhan gagasan yang mau diungkapkan — ternyata memang cara yang cerdas buat mengurangi distorsi hingga penonton bisa sepenuhnya fokus pada serangkaian kode visual yang kamu ciptakan buat membentuk teks utamanya.

Artinya, ketika otak kita tidak harus lagi, seperti biasa, memikirkan perkembangan cerita dan pelbagai distorsi sinematografis lainnya, kita mungkin akan lebih memiliki banyak kesempatan memahami progresi bahasa tubuh kedua pemain, makna setting tempat, desain suara, do-re-mi-fa-sol-la-si-do, dan gerak kamera sebagai bahasa ungkap kamu. Barangkali terlalu subtil dan sublim hingga masih susah “dibaca”, namun saya tidak menganggapnya sebagai kekurangan atau kelemahan film itu.

Biarkan saja begitu. Saya suka, bahkan suka banget! Setidaknya, karena cocok dengan satu lagi “teori” yang saya yakini secara subyektif: semakin tersamar teksnya biasanya justru semakin bagus estetikanya. Hahaha, seperti sering dibilang banyak orang, nonton film kan bisa dilakukan dengan cara sesuka-suka kita sendiri.

Karena itu saya pede saja ketika Ucu di Coffeewar malam itu bertanya, “Menurut Mas Totot, apa film seperti itu bakal cukup berharga buat diperhitungkan oleh pengamat-pengamat film lain?” Saya jawab. “Saya yakin akan ada pengamat entah dari mana yang bisa membongkar kode-kode visual yang diciptakan Djenar untuk ‘membaca’ maknanya.”

Dear Monyet,

Kalau kamu malas menebak-nebak apa sebetulnya esensi yang mau saya sampaikan melalui surat panjang ini, baiklah akan saya bantu menyimpulkannya dalam satu kalimat pendek. Intinya: Elu emang monyet!

Jadi kapan film kedua… eh, film berikut kamu, bakal mulai dibuat? Masih ada lowongan buat jadi asisten? Hahaha!

Salam,

Totot indrarto

Beberapa saat kemudian

10 Comments

Add your comment

  1. lovepassword
    Jan 10 at 14:05

    Salam Kenal Mbak. Met tahun Baru.

    Maju Terus perempuan Indonesia… -

  2. si Rusa Bawean
    Jan 12 at 11:32

    sebelumnya salam kenal Djenar…

    aku penasaran neh pengen nonton
    kira2 aku bisa dapetin dmn ya filmnya???

  3. i wont tell you
    Jan 20 at 03:42

    “film pembalasan dendam, kurang ekstrem, misalnya sampai si perempuan memotong alat vital laki-laki lalu menggoreng dan memakannya seperti banyak film sinting dari Jepang.” itu buat penonton jadi tidur ?? serious?? i will watch repeatly man if i was audiance..

    Teks lebih penting ketimbang cerita. Yang dinyatakan lebih esensial dari yang dikatakan. “Apa yang didapat” (dari pengalaman itu) lebih beguna dari “apa yang dialami” (dalam pengalaman itu). im sooo disagreee

  4. jayawidya
    Mar 02 at 18:48

    @iwonttellyou: kamu baca tulisan mas Totot tapi tidak berhasil ‘membaca’nya dengan jelas.

    Memang gak ada adegan memotong alat vital & menggorengnya di film djenar.

    Makanya dibilang penonton bisa ketiduran.

  5. liestiad
    Apr 24 at 09:34

    Mba Djenar yth,
    Saya sangat memerlukan kontak dengan anda berkait dengan riset saya tentang film indonesia termasuk film karya anda. dapatkah mba djenar memberikan kontak email kepada saya?

    Sy sudah berusaha mencari kontak anda dg teman2 tp tidak berhasil.
    sebelumnya terima kasih atas bantuannya.

    salam : lies

  6. dayan
    Mar 21 at 19:09

    pengen nonton

  7. dayan
    Mar 21 at 19:11

    heemmh,
    pengen bgt nonton *terutama abis baca tulisan di atas, bisakah?
    pdahal mereka bilang saya monyet aja udah telat bgt baru bisa nonton *pake cd.
    :(

  8. Wijatnika Ika
    Jun 12 at 15:51

    no comment deh. pening.

  9. ocha
    Dec 01 at 09:30

    hi mba nai :D
    saya mahasiswa psikologi, boleh minta biografi mba nai gak? say mau menganalisis sesuai dg teori kepribadian. klo boleh minta kontak mba dan emailnya :D
    terima kasih mba nai :D

  10. oca
    Dec 04 at 16:38

    mbak nai, saya mahasiswa psikologi ingin minta data biografi mbak nai untuk dianalisis. apabila boleh, saya minta kontak mbak :D
    mkasih mbak nai

Post a comment