SAIA: GAIRAH SANG SUTRADARA by Mikael Johani
Jan 14
wednesday 13th
“SAIA”, film terbaru Djenar Maesa Ayu, tidak seperti film-film Antonioni yang menanggalkan pakaian semua karakternya di menit pertama. Karena di menit pertama dalam “SAIA” kedua karakternya (mungkin bernama Saya dan Ia) memang sudah tidak berpakaian. Yang menempel di tubuh dua aktornya — Harry Dagoe dan Djenar sendiri — hanya tato, lebam dan keringat.*
Plot “SAIA” simpel, sangat linear. Sepasang heterosexual menyewa holiday cottage dari bambu yang kelihatannya tidak terlalu murahan (sprei bersih, lampu meja bertutup kain kanvas putih a la Index Furniture, ada telpon), kemudian bercinta dengan berbagai macam gaya dengan jendela terbuka. Semuanya diabadikan oleh (mungkin) seorang voyeur dengan kamera digital dari kamar sebelah yang (kira-kira) berbentuk sama dari jendela yang juga terbuka (ada dua jendela, tembok di antaranya dengan lihai menyembunyikan penis Harry Dagoe sepanjang hampir 80 menit). Seperti holiday house mansion di film “SALO” Pier Paolo Pasolini, gubuk bambu “SAIA” (perhatikan jumlah huruf yang juga sama dalam judul keduanya) juga bisa diinterpretasikan sebagai simbolisme sebuah eskapisme. Kalau orgy Pasolini adalah eskapisme ironis dari fasisme Il Duce (karena orgy untuk melarikan diri dari fasisme itu ternyata bukan cuma juga fasis tapi sadis dan masokis pula — poin satir hitam buku yang menginspirasi film ini, “120 Days of Sodom”-nya Marquis de Sade, bahwa fas/sad-isme ada di dalam diri kita semua ke mana pun kita lari), gubuk “SAIA” bisa juga diinterpretasikan menawarkan safe house dari fasisme Il Ba’asyir, Stormtroopers of MUI dan kawan-kawannya.
Kamera yang dipegang tangan dan kebanyakan diam (paling hanya bergerak dari jendela ke jendela, zoom in and out hanya kadang-kadang) selain mengingatkan kepada kerja kamera dalam reality shows seperti “Big Brother”, atau isi video-video VHS misterius di film “Hidden” (Caché) Michael Haneke, atau channel-channel sado masokis di klub Herosase dalam “Pintu Terlarang” Joko Anwar, juga mengingatkan kepada camera work primitif sutradara-sutradara 3gp Indonesia yang karya-karyanya, seperti “SAIA” yang diputar di antara kalangan sendiri secara setengah rahasia, juga menghuni space dan status setengah underground setengah mainstream di kaskus dan berbagai blog penyedia link-link mesum.
Scene-scene di film ini pun bisa dipilah-pilah berdasarkan fetish-fetish pornografi yang daftarnya sering ada di situs seperti youporn.com dan — versi Indonesianya — delthavideo.com: scene pertama blowjob, kedua swallow, ketiga foot fetish, keempat dildo, kelima BDSM, keenam (mungkin) rape, ketujuh (mungkin) snuff. Dan semuanya dibungkus dalam über-category MILF. Bedanya dengan menonton youporn atau mendownload video 3gp dari kaskus, kita tidak bisa memilih cuma menonton kategori yang kita suka. Selama 80 menit “SAIA” bukan cuma mempersilakan penonton menjadi voyeur/peeping Tom/tukang ngintip tapi juga memaksanya untuk menikmati adegan-adegan yang mungkin tidak terlalu membuatnya ngaceng.
Salah satu problem pornografi menurut mbah-mbah feminis serem Catherine McKinnon dan Andrea Dworkin adalah bahwa dalam proses produksinya aktor-aktor yang terlibat di dalamnya pasti dipaksa untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka inginkan. Pornography is Rape. Sex is Rape. Nah, “SAIA”, dengan cara memaksa penonton menonton hal-hal yang mungkin tidak ia sukai, telah membalik argumen ini. Gantian penonton — penikmat (mungkin) pornografi tadi — yang disiksa, yang diperkosa. “SAIA” has turned pornography on its head! Lagipula, apakah Djenar sang sutradara benar-benar bermaksud menceritakan ada voyeur di cottage sebelah yang sedang membidikkan Flip HD-nya ke tetek Djenar dan dada Harry Dagoe yang berbulu sekaligus bergelimang keringat? Atau gaya handheld camera work ini hanya point of view seorang sutradara Dogma yang sedang bercerita tentang exhibisionisme Saya dan Ia? Apakah sebagai penonton kita deg-degan ikut mengintip atau meronta-ronta dipaksa untuk menonton? Di saat-saat waktu camera tiba-tiba zoom/maju ke tetek Djenar atau dada bergelimang keringat Harry Dagoe dan terdengar lamat-lamat suara nafas yang berat (film ini tanpa dialog dan hampir tanpa suara sama sekali) — apakah ini suara karakter si Djenar (Saya atau Ia?) yang akhirnya kedengaran dari jendela yang terbuka, atau suara nafas si voyeur yang ikut terangsang/tegang?
Jika pun tidak ada voyeur dan yang ada hanyalah kameramen si Djenar Von Triers, maka ini juga cara yang cerdik untuk menjebak penonton menjadi voyeur itu sendiri. Sepanjang film penonton melihat dua jendela yang terbuka mempertontokan dua orang yang sedang ngewi dan tidak terlihat ingin menyembunyikan tubuh atau kegiatan mereka berdua. Penonton tidak diberi ruang untuk mengalihkan pandangannya. Kebanyakan kegiatan mengintip kecuali di peep-show tentulah dilakukan sambil sembunyi (orang yang masuk ke dalam bilik peep-show pun sedang sembunyi di bilik itu dan bilik itu bersembunyi di naungan sex-shop, legalitas pornografi di Amsterdam, etc.), tapi “SAIA” tidak pernah membiarkan penonton — kalau dipikir-pikir semua penonton film, bahkan yang bukan pornografi, adalah voyeur bukan? — the ultimate voyeur ini, untuk sembunyi! Ia terpaksa melongo di depan Saya dan Ia sampai film ini berakhir dengan sebuah adegan snuff movie, di mana salah satu dari Saya dan Ia mungkin mati atau pura-pura mati dalam sebuah ritual sado masokis yang sangat terkontrol, dan sebuah twist** yang awalnya bagi saya agak membingungkan tapi kemudian menurut saya adalah cara yang pintar untuk meruntuhkan kepercayaan kita bukan cuma tentang seks, pornografi atau moralitas, tapi juga tentang (si)apa itu menonton dan (si)apa itu ditonton.
***
*dalam percakapan dengan Djenar, ia bercerita bahwa badan Harry Dagoe sempat biduran selama shooting sehingga selain keringat tubuhnya juga bergelimang bedak cair Caladyn
**bagi yang tidak terganggu dengan spoiler silakan melanjutkan baca ke sini (coming soon)
www.oomloskop.tumblr.com
















Jan 15 at 01:04
Jujur, aku tidak terlalu paham dengan apa yang telah dipaparkan oleh Mikael Johani di sini tentang SAIAmu, Mba Nai. Mungkin aku harus membacanya berkali-kali baru aku bisa menangkap jelas makna dari tulisan ini. Well, tampaknya akan sangat sulit juga bagiku seorang awam membaca filmmu jika kelak mendapat kesempatan menontonnya, namun itu tidak menghalangi niatku yang sangat dan makin penasaran seperti apa sih SAIA yang telah dirimu buat. Kalau kembali mengingat sesi tanya jawab film MBSM, pastinya aku tidak bisa bertanya, apa pesan dan alasan membuat SAIA itu. Ah, yang pasti aku tetap ingin menontonnya. Semoga ada kesempatan nanti, ya…
Jan 19 at 08:20
mba Nai… Saya selalu penasaran dengan karya-karyamu, meski seperti yang mba adelina bilang butuh dibaca berkali2 agar bisa mengerti
Jan 19 at 17:16
emmm ,,, berat,bingung,misterius,dan itu yg membuat saya penasaran dan pengen nonton
Jan 20 at 02:37
waah amat sangat ngerti..hanya org2 tertentu yg paham.. ternyata bukan gw doank yg aneh
(`3`0 serius tuh film indonesia ada yg bgitu..
hebat..bin ajaib
Jan 20 at 09:38
eeeerrrrrmmmmmm…..sorry…untuk sementara, no comment:) tx for the comments, though. cheers.