Photos Gallery

yiyi, mommy, nyunyu rodma ucit's bday philo art space berenang dma,djaduk,tegoeh anjas,dma maya,virny,dma eka di "kafe betawi":) djenar-yiyi Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 7 Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 6
View more photos >
 

SAIA by Ismail Fajrie Alatas

Jan 10

Untuk Djenar Maesa Ayu

il miglior fabbro

Saia adalah monolog tanpa suara. Sebuah proses berbagi dari seorang subjek kepada sesama melalui mediasi nilai-nilai estetika tersembunyi. Dua jendela terpisah dalam satu bangunan rapuh. Tak ada beton penyangga, ataupun tembok pemisah. Yang ada hanyalah geribik tipis, menandakan demarkasi ruang namun tetap saja tertembus sinaran mentari melalui relung-relungnya. Dua jendela tersebut menandakan kesempitan, keterbatasan yang secara paradoksal membuka ranah luas bagi keterwujudan tanpa batas.

Anggi "Cumit" was shooting SAIA

Infinitas dalam keterbatasan. Seperti halnya sungai sempit, kesadaran mengalir deras tanpa dibatasi waktu, tetapi terkadang dikalahkan oleh ruang keseharian yang menghancurkan kesinambungannya. Pemikiran … kesadaran … adalah sebuah aliran dan bukan fragmen yang saling terputus. Ia bukan sebuah rantai maupun gerbong yang dipaksa membentuk sebuah kontinuitas melalui tangan-tangan pihak lain. Kesadaran berjalin kelindan melukis kesinambungan yang mungkin hanya terwujud dalam bayang-bayang sang pelaku dan tidak dapat disuarakan. Namun ia dapat diutarakan dalam monolog tanpa suara.

Dalam monolog ini, pikiran sang protagonis tentang masa lalu dan masa depan dihadirkan bersama persepsi-persepsinya akan masa kini. Sebuah tehnik monolog interior yang langsung dan terus terang. Kinerja dalam akal manusia diperkenalkan secara langsung tanpa klarifikasi auctoris yang menerangkan bahwa sang protagonis sedang berpikir. Yang ada hanyalah karya seni tanpa penjelasan. Mediasi estetika ini dahulu pernah digunakan oleh Edouard Dujardin dan James Joyce untuk menghadirkan kembali secara tuntas keseluruhan kesadaran. Dengan demikian, metode ini juga melukiskan ketidakstabilan dan cairnya waktu. Seperti halnya geribik berongga yang menutupi ruang aksi dalam film tanpa menghambat masuknya cahaya surya, Saia menghadirkan masa lalu, kini dan depan melalui aliran sungai kesadaran tanpa halangan.

I

Do-re-mi-fa-sol-la-si-do.

Tangga nada membentuk keharmonisan sinkronis. Namun dalam sinkronisitas terdapat alur diakronik. Ada alur temporal yang memberikan pemaknaan bagi runtutan nada sehingga menghadirkan lekatan dan perpaduan. Saat persepsi beranjak hilang dari masa kini, ia berangsur masuk ke dalam ruang ‘retensi’, ungkap Edmund Husserl. Kita terlebih dahulu mengalami sebuah “poin kekinian’ yang kemudian hilang dan berubah menjadi retensi segar. Pada saatnya nanti, retensi juga akan mengalami pengaburan hingga raib sepenuhnya dari masa kini. Guna menghadirkannya kembali, sebuah proses ‘rekoleksi’ harus dilakukan agar masa lalu dapat melekat kembali pada masa kini kendati tidak dalam bentuk awalnya.

Saia tak hendak membentuk sebuah kronik kejadian. Ia hanyalah sebuah aliran nada yang justru menandakan kontinuitas melalui bunyi. Setiap bait nada seakan hinggap untuk membuka babak baru. Delapan babak dimulai dengan suara mengejutkan sehingga memaksa ruang ‘retensi’ untuk kembali memadati masa kini. Di sinilah letak struktur temporal nada. Sebuah melodi hanya bermakna jika ia dibentuk oleh kesadaran dalam proses retensi nada-nada sebelumnya yang telah hilang. Mi mendapatkan maknanya hanya pada saat re yang telah mendahuluinya tetap segar dalam retensi. Begitu juga si yang dimaknai oleh la. Hasilnya adalah sebuah kesinambungan sarat kompleksitas.

Sebuah ranah tersamarkan yang memaksa apa yang telah ada dan berlalu untuk kembali hadir memberikan pencerahan pada apa yang baru terwujud dan akan terwujud. Suatu keadaan di mana kekinian diwarnai oleh yang telah lewat dan yang akan tiba.

Nampaknya Saia adalah sebuah dinamika kesadaran. Jika nada-nada yang telah berlalu sepenuhnya lenyap, seseorang tak lagi dapat merangkai melodi penuh makna. Namun, jika nada-nada tersebut tetap hadir dalam ruang kekinian, petikan-petikan nada bisa hanya membentuk sebuah anarki musikal. Integrasi masa lalu dengan masa kini hanya mungkin terjadi jika nada yang telah terjadi dibiarkan berlalu tanpa menghilangkan jejaknya. Inilah proses dimana intensitas nada yang berlalu melemah tanpa harus hilang sepenuhnya dari kesadaran. Ia tetap hidup, dalam bagian subjektifitas terdalam, seperti trauma yang selalu menggerogoti masa kini tanpa beranjak dari ingatan. Dan kebimbangan itu dikisahkan oleh Saia yang seakan tak pernah bebas dari sayatan luka. Cerita-cerita yang telah berlalu tetap terlihat, seakan dua jendela kayu itu terbuka guna menampakkan luka-luka lama.

Yang telah terjadi tak akan hilang sepenuhnya dari kesadaran. Karena yang ada hanyalah do-re-mi-fa-sol-la-si-do. Saia tidak membuka kemungkinan bagi adanya struktur lain, walaupun ia hanya sebatas do-si-la-sol-fa-mi-re-do.

II

Trauma-trauma itu tersimpan dalam tubuh. Seakan tubuh kaku yang tergolek layu di pembaringan menjelma papan lemas di mana kesadaran dituliskan secara paksa. Saia menjadi testimoni ketersiksaan yang selalu saja dibubuhi dalam relung-relung kulit, membentuk stigmata yang terus hadir hingga akhir hayat. Dominasi sebuah kekuasaan seakan ingin selalu menulis dalam segala bentuk kehadiran manusia dalam alam laksana Robinson Crusoe yang membuka babak baru kehidupannya di pulau terasing dengan menulis buku harian. Seperti Tuhan yang mengajarkan Adam nama dari segala benda, proses signifikasi adalah sebuah relasi dominasi. Begitu juga dengan Negara-Bangsa yang menorehkan hukum dan ketentuan menjadi seorang warga negara yang baik dengan goresan tinta hitam yang mewarnai kitab-kitab hukum adiluhung. Tak cukup dari itu, rezim kekuasaan ingin juga mengguratkan warnanya pada tubuh manusia, mencanangkan biopolitics mutakhir umat manusia. Dalam sebuah ruangan pengap pasangan suami-istri, kekuasaan mengejawantah pada tubuh seorang perempuan dalam tetes keringat lelaki di perut mulusnya, ataupun muntahan air mani ke dalam kerongkongannya.

Untuk Saia, tubuh menjadi begitu penting sebagai situs terjadinya sebuah cerita. Tubuh tak lagi hanya sebuah barang kaku, melainkan menjadi kondisi permanen dari pengalaman itu sendiri. Dengan kata lain, tubuh menjadi bagian terpenting dalam keterbukaan persepsi seorang manusia dengan dunianya. Karena keterperangkapan akal dalam tubuh, persepsi adalah pengalaman selama persepsi menjadi sebuah dimensi aktif. Hasilnya adalah semacam titik temu penuh kerancuan antara kebertubuhan kesadaran dan kesadaran tubuh manusia. Tak ada lagi ruang yang jelas dan yang terdemarkasi bagi status ontologis akal dan tubuh. Di sinilah letak pentingnya ruang dan kedalaman bagi keberadaan-di-dunia. Ruang dan kedalaman yang secara jelas terpampang dalam Saia sebagai kedalaman sebuah ruang suami-istri yang walaupun tampak sudut dalamnya, tetap terbatas karena tak dapat dimasuki dan dieksplorasi oleh kamera. Dalam Saia, kedalaman terpampang secara gamblang sebagai dimensi dalam dari dua buah jendela usang itu.

Namun air mani yang telah tertelan dapat juga dimuntahkan keluar jendela. Di sinilah letak perlawanan dalam kepatuhan. Seakan tubuh tak dapat menerima cairan asing yang dipaksakan masuk melalui mulut. Dan senada dengan tangga melodi yang terus beranjak, perlawanan tak lagi terjadi dalam kepatuhan. Tubuh sebagai situs dominasi di saat yang sama beranjak menjadi situs perlawanan. Kepahitan seksual yang dipaksakan berubah menjadi kenikmatan surgawi yang mencucurkan kekuatan pada tubuh wanita untuk mengambil alih kendali permainan seksual. Kini tiba saat di mana wanita menyetubuhi pria, memainkan suami bagai penunggang di atas pelana. Dan perlawanan belum selesai di saat tubuh sang pria masih bisa bergerak. Ia ingin tubuh itu terbujur kaku dan dingin. Dan tubuh yang tetap bergerak di akhir permainan menjadi pemenang.

Mungkin Saia adalah sebuah proses, dimana sendi-sendi yang telah terbangun oleh rezim dominasi patriarkal dengan celibate machine-nya diluluh-lantahkan. Di sini, mesin-mesin paranoiak yang telah membungkam hak kenikmatan bagi kaum wanita justru memberikan ruang yang besar bagi eksplorasi kenikmatan yang menghantarkannya pada sebuah transfigurasi. Tombol-tombol yang sudah ada pada tubuh wanita diaktifkan melalui sentuhan halus dildo otomatis, sehingga menghidupkan rangsangan tak terperikan di sekujur tubuh. Pada akhirnya, sentuhan-sentuhan tersebut memberikan kenikmatan autoerotik dan membuahkan kekuatan besar bagi sang perempuan untuk bergejolak lepas menantang dominasi konsumasi seksual. Titik ekstase mengisi ulang batere kamera yang telah padam. Layaknya sentuhan listrik ia membuka ranah penaklukan kekuasaan yang selama ini mendominasi.

Untuk Saia, seks menjadi proses penemuan diri dan pengkristalan kekuatan melalui pelbagai medium simbolis yang terbentuk dalam sebuah konfigurasi internal.

III

Seperti halnya sebuah permainan seks, menonton film juga merupakan proses konfigurasi, di mana simbol-simbol yang dibawa penonton berkontestasi dengan simbol-simbol yang disuguhkan film. Seperti kata Paul Ricoeur, pengetahuan manusia akan dirinya sendiri selalu saja dimediasi oleh interpretasi. Tak seperti pretensi subjek yang selalu mengetahui dirinya melalui intuisi langsung, kita sebenarnya mempelajari diri sendiri melalui jalan panjang yang dipenuhi pelbagai tanda dan simbol yang tersimpan dalam karya-karya kultural. Karya-karya inilah yang kemudian membentuk prefigurasi yang berdiam dalam kesadaran kita.

Film, seperti halnya karya seni yang lain, menginginkan sebuah transformasi dalam diri mereka yang menyaksikannya. Ia bermaksud menata ulang kembali cara-cara kita melihat dunia melalui sebuah proses refigurasi. Dalam interaksi antara film dan penonton yang terjadi dalam ruang gelap sinema, kontestasi antara ide-ide yang telah terbawa oleh penonton berseteru dengan apa yang disuguhkan film dalam sebuah dinamika konfigurasi internal. Dalam kontestasi inilah kekuatan film menemukan ujian terberatnya. Akankah simbol-simbol yang telah dipersiapkan sang sutradara dapat ditangkap oleh imajinasi para penonton, sehingga mengalahkan prefigurasi yang telah mendominasi? Atau akankah simbolisme yang ada dalam film tersebut terlalu tersamarkan sehingga tak tercerna oleh para penonton? Di saat para penonton keluar dari gedung pertunjukan, ide-ide apakah yang mereka bawa? Apakah proses refigurasi berhasil dalam meluluh-lantahkan ide-ide yang telah ada, sehingga menancapkan seperangkat simbolisme baru?

Tentu jawaban dari pertanyaan ini akan berbeda bagi setiap penonton. Tetapi yang jelas Saia telah berani memasuki arena kontestasi tersebut dengan menawarkan rangkaian simbolisme yang langsung tertuang dari sungai kesadaran. Ini ikhwal yang pelik untuk diutarakan, karena tidak dapat dilukiskan dengan suara. Kepedihan yang hanya dapat dirasakan tanpa bisa diartikulasikan. Kebahagiaan pada akhir kepahitan dilambangkan oleh senyum dan tawa yang sebelumnya hilang dari bagian-bagian film sebelumnya. Namun seperti halnya tangga nada, permulaan do akan tetap diakhiri dengan do yang lain. Do akan selalu membuka dan menutup karena Saia adalah sebuah monograf tanpa suara. Sebuah cipratan kecil dari sungai kesadaran yang tak terhingga namun selalu saja terbatasi.

IV

Mungkin pada akhirnya, Saia adalah sebuah proses di mana kesadaran bercermin. Namun sebagai sebuah esensi tanpa batas, kesadaran tak akan bisa dicakup oleh sebuah cermin. Dan oleh karenanya, kita hanya dapat melihat bagian-bagian dari kesadaran tersebut seperti apa yang terjadi dalam bingkai sepasang jendela itu. Namun, jika kesadaran harus dibatasi dan tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, gerakan-gerakan seks yang diayuh oleh ungkapan nada dapat menawarkan rentetan ekspresi. Ekspresi itu seakan berteriak di saat bahkan bisikpun tak terdengar: trauma itu masih ada … luka itu masih menyayat …

Trauma dan luka itulah Saia …

21/08/09

————————–

* Catatan ini bukan dimaksudkan sebagai sebuah resensi film Saia.

Ini hanyalah renungan dan refleksi bebas.

Post a comment