Apr 19

Tidak ada seorang pun yang tak suka uang. Saya, apalagi. Tapi yang namanya uang, tidak suka orang. Karena itu mustahil mengharapkan uang mengetuk pintu rumah dan langsung lompat ke tangan. Uang tahu kalau ia begitu dibutuhkan. Maunya dicari, tak mau begitu saja datang.
Celakanya, walaupun saya suka uang, saya tidak suka mencari uang. Mendengar kata “bekerja” rasanya malas betul! Cuma apa mau dikata, saya tidak seberuntung orang-orang yang kekayaannya tidak habis dimakan tujuh turunan. Satu turunan saja hidup saya pas-pasan. Jadi mau tak mau saya harus bekerja, walaupun sekali lagi, rasanya malas betul!
read all »
Apr 16

Sekarang film Mereka Bilang, Saya Monyet! sudah bisa ditonton dalam bentuk DVD.
Synopsis:
Adjeng adalah seorang penulis cerita anak-anak yang sedang memberontak pada hidup. Masa lalunya penuh pelecehan, baik secara verbal oleh ibunya, maupun secara seksual oleh pacar ibunya. Hal ini menjadikan Adjeng seolah berkarakter ganda. Sebagai anak yang manis di depan ibunya, namun sangat liar kala bersama teman-teman dan pacarnya.
Diangkat dari 2 cerpen Djenar Maesa Ayu : Lintah dan Melukis Jendela.
read all »
Apr 16
Oleh Totot Indrarto
[...] Mulai 3 Januari lalu Blitz menayangkan film cerita digital Indonesia pertama. Yakni, film Mereka Bilang, Saya Monyet! (MBSM!) karya sutradara pendatang baru, Djenar Maesa Ayu, yang sebelumnya dikenal sebagai penulis cerpen dan novel. Diproduksi dengan biaya Rp 620 juta, film yang diangkat dari dua cerpen Djenar ini dalam banyak hal berbeda dengan film-film komersial yang dibuat untuk melayani selera penonton.
MBSM! menarik, meski masih banyak kelemahan teknis di sana-sini, karena Djenar sudah menunjukkan tiga hal penting yang sering diabaikan oleh kebanyakan pembuat film kita. Pertama, ia berhasil membuat cerita yang sederhana namun berisi. Membuat film sejatinya adalah berbagi gagasan, sesederhana apapun. Bisa pikiran, bisa perasaan. Artinya, bercerita bukanlah tujuan, melainkan sekadar cara.
Selengkapnya baca di pakde.com
Apr 16
Oleh: Adi Wicaksono
Setelah dikenal sebagai penulis cerita pendek, kini Djenar Maesa Ayu muncul dengan film Mereka Bilang, Saya Monyet!
Bukan sebuah kebetulan jika dalam film debutnya ini, ia bercerita perihal kehidupan perempuan penulis pula. Tentu, Djenar tidak berkisah mengenai liku-liku karier kepenulisan, melainkan sejenis paradoks yang dialami oleh seorang perempuan muda kelas menengah kota Jakarta yang mengidap trauma dan disorientasi akut.
Dan sebagaimana lazimnya kisah semacam itu pagi-pagi kita bertemu dengan kisah gelap tokoh utamanya (Adjeng) di masa kanak-kanak akibat perceraian orangtuanya. Ia mengalami “kekerasan” dan pelecehan seksual. Ia terisolasi dari lingkungannya, lalu tumbuh menjadi perempuan yang labil, ugal-ugalan dan permisif. Ia menjadi simpanan seorang bos, suka dugem, dan tinggal di apartemen. Ia juga berpacaran dengan seorang penulis senior yang sudah beristri. Yang unik dari si tokoh ini adalah, meski suka semau gue, ia menjadi anak manis di depan ibunya. Ia takluk oleh bayang-bayang otoritas mama. Kisahnya berkisar pada proses pengendapan trauma dan “pemberontakan” terhadap kungkungan otoritas dipadu dengan kegelisahan kreatif tanpa henti dari seorang perempuan yang hendak merefleksikan pengalaman tersebut ke dalam tulisan-tulisannya.
Selanjutnya baca di adiwicaksono.com
Apr 15
PEREMPUAN itu duduk dengan tubuh condong ke meja di depannya. Pandangan matanya mengarah lurus ke depan. Tangan kirinya memegang rokok sementara tangan kanan yang sikunya bertumpu di atas meja berusaha menutupi separuh wajahnya. Mulutnya komat kamit. Sesekali badannya semakin condong ke depan ketika ia sedang tidak komat-kamit, seolah ingin menyimak benar setiap perkataan lawan bicaranya yang mungkin berucap dengan suara pelan. Padahal ia sedang sendirian.
read all »
Apr 11
Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket, liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. Menerima. Membuahinya. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Rasa mual merajalela. Pun mulai membukit perut saya. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya, sudah satu bulan setengah usia janinnya.
Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda,” kata ayahnya.
Saya akan menjaganya.
read all »