Jan 10

Dear Monyet,
Selamat natal dan tahun baru 2010!
Ini mungkin bakal jadi tahun yang tidak mudah buat kamu, terutama setelah Mereka Bilang, Saya Monyet! memenangkan tiga Piala Citra dan satu Penghargaan Khusus Dewan Juri dalam FFI 2009. Sekarang pasti banyak orang sedang menunggu film kedua kamu. Eh… persisnya, film berikutnya, karena sebetulnya kamu sudah menyelesaikan film kedua, yang sejak awal memang tidak akan diputar untuk umum di Indonesia.
read all »
Jan 10
Untuk Djenar Maesa Ayu
il miglior fabbro
Saia adalah monolog tanpa suara. Sebuah proses berbagi dari seorang subjek kepada sesama melalui mediasi nilai-nilai estetika tersembunyi. Dua jendela terpisah dalam satu bangunan rapuh. Tak ada beton penyangga, ataupun tembok pemisah. Yang ada hanyalah geribik tipis, menandakan demarkasi ruang namun tetap saja tertembus sinaran mentari melalui relung-relungnya. Dua jendela tersebut menandakan kesempitan, keterbatasan yang secara paradoksal membuka ranah luas bagi keterwujudan tanpa batas.

Anggi "Cumit" was shooting SAIA
read all »
Jun 08

Semalaman saya sulit tidur. Hari ini adalah hari yang amat istimewa: pemutaran film “Mereka Bilang, Saya Monyet!”, pemutaran film “Kerikil-Kerikil Tajam” dan “Si Mamat”, dan tentu saja Awarding Night. Terus terang, saya tidak berharap menang. Saya lebih takut film MBSM tidak disukai orang. Juga takut tidak banyak penonton yang datang. Padahal pemutaran filmnya di Museum Nasional. Menurut Phillip, kapasitas tempat itu mampu menampung sekirang 400 orang. Pasti akan sangat terlihat kosong jika hanya sedikit yang datang.
read all »
May 23
Sudah lama saya ingin menulis tentang Kota favorit anak dan keponakan-keponakan saya, Kidzania, tapi tidak ada fotonya. Ratih Kumala yang sudah dua kali saya ajak berkunjung ke kota ini, juga telah menulis di blognya, www.ratihkumala.com . Tapi saya tetap ingin menulisnya, karena saya pun amat terkesan dengan kota Kidzania. Selain itu untuk urusan foto, kok bisa-bisanya ya saya baru terpikir bisa mencarinya di google? Dan ternyata memang ada. Dasar katro!.
read all »
May 20
I

Saya terbangun karena suara telepon. Saya pikir Phillip, yang memang berjanji akan menelepon kalau ia sudah tiba di hotel untuk meeting dengan Shanty Harmain jam delapan pagi. Tanpa melihat jam saya langsung menjawab telepon, “Morning, Phillip.” Ternyata bukan Phillip. Dan jam baru menunjuk ke pukul lima dini hari (siapa dan pembicaraan apa yang terjadi di telepon tidak akan saya tulis di sini, dong..enak aje!:p). Yang jelas saya jadi tidak bisa tidur lagi. Untungnya kepala saya tidak terasa berat akibat banyak alkohol malam tadi. Bir dan Tequila, entah kenapa adalah kombinasi yang tidak akan pernah membuat saya hang over!
read all »
May 12


Tanggal 11 April 2008, saya terbang ke Singapura. Itu bukan pertama kalinya saya datang kesana untuk menghadiri Singapore International Film Festival. Tahun lalu saya mewakili Film “Koper” (the lost suitcase) sebagai aktor, ke Singapore maupun Bangkok International Film Festival bersama Maya Hasan dan Richard Oh sang sutradara.
read all »