MONEY-PULATOR
Apr 19
Tidak ada seorang pun yang tak suka uang. Saya, apalagi. Tapi yang namanya uang, tidak suka orang. Karena itu mustahil mengharapkan uang mengetuk pintu rumah dan langsung lompat ke tangan. Uang tahu kalau ia begitu dibutuhkan. Maunya dicari, tak mau begitu saja datang.
Celakanya, walaupun saya suka uang, saya tidak suka mencari uang. Mendengar kata “bekerja” rasanya malas betul! Cuma apa mau dikata, saya tidak seberuntung orang-orang yang kekayaannya tidak habis dimakan tujuh turunan. Satu turunan saja hidup saya pas-pasan. Jadi mau tak mau saya harus bekerja, walaupun sekali lagi, rasanya malas betul!
Semakin hari, rasa malas saya semakin menjadi-jadi. Selain karena saya mendapati kenyataan bahwa mencari uang itu benar-benar menghabiskan waktu, tenaga, dan energi, saya juga kenyang dengan berbagai pengalaman yang sangat amat makan hati. Saya tidak saja mendapat pelajaran bahwa mencari uang sangat sulit, saya juga merasakan ternyata sebagai perempuan, mencari uang sangatlah lebih sulit.
Contohnya, ketika saya menawarkan produk kepada klien, ternyata yang dilirik bukan produknya, tapi sayalah yang bagi mereka adalah produk. Berkali-kali saya terlibat hubungan kerja dengan si pemegang-pemengang uang. Meeting berkali-kali, dan setiap kali pertemuan selalu saja dengan naifnya saya berpikir, saya sudah semakin dekat dengan kesepakatan yang begitu diharapkan bisa membuat saya mendapat uang. Buntutnya, boro-boro kesepakatan, apalagi uang. Yang ada hanyalah tawaran-tawaran yang membuat saya sebagai perempuan yang sudah berusaha berkerja secara profesional dan se-proporsional mungkin, merasa direndahkan. Bentuknya macam-macam: bisa dimulai dari sms-sms ringan yang sangat tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, atau undangan-undangan makan malam yang lagi-lagi tidak ada pembicaraan tentang pekerjaan, sampai dengan yang terang-terangan menyampaikan rasa tertariknya pada saya lalu mengajak kencan.
Kejadian-kejadian semacam ini menempatkan saya, seorang perempuan, berada pada posisi yang sangat lemah. Menolak atau tidak menolak, sama-sama berakibat tidak enak. Jika tidak menolak, proses menuju kesepakatan yang saya harapkan akan berjalan lancar dan saya mendapat uang, tapi saya selamanya akan kehilangan hak dan harga diri sebagai manusia yang tidak ternilai harganya dibanding uang. Sementara jika saya menolak, lantas bangga menepuk dada karena harga diri saya masih menempel di sana, saya tetap saja rugi secara materiil, rugi waktu, rugi energi, rugi tenaga, dan hati saya pun erosi. Merasa kalah. Merasa tertindas. Merasa skeptis, apalagi jika kejadian yang sama terjadi berulang-ulang
Jika saya mengemukakan masalah ini kepada perempuan, reaksi mereka kebanyakan miris, mengerti, juga merasakan perasaan saya sebagai pihak senasib seperjuangan. Tapi jika saya mengutarakannya kepada laki-laki, yang sopan biasanya cuma nyengir, kalau yang sinis cuma mencibir, kalau yang agresif balik menyerang, “Siapa suruh perempuan-perempuan mau diperlakukan seperti itu? Memang kenyataannya banyak perempuan yang sudah siap “jualan” luar dalam kok!”
Sejak lahir, laki-laki dibekali pengetahuan bahwa mereka harus pintar mencari uang. Sementara perempuan dibekali pengetahuan, bahwa mereka harus pintar mencari laki-laki yang punya uang. Dengan kata lain, peran uang yang di sini bisa diartikan sebagai bentuk kekuasaan, ada di tangan laki-laki. Dan perempuan secara langsung maupun tidak langsung “terbiasa” dengan keadaan di mana mereka harus tunduk pada laki-laki sebagai pemegang uang atau pemegang kekuasaan.
Kesalahan cara mendidik inilah yang harus segera diluruskan. Keluarga sebagai institusi terkecil dalam masyarakat luas, harus bisa menjalankan fungsinya yang satu di antaranya adalah fungsi edukatif. Jika kesalahan informasi semacam ini tetap diteruskan secara turun temurun, lagi-lagi perempuanlah yang harus menuai kerugian, baik moril maupun materiil. Konsep budaya yang menempatkan perempuan sebagai masyarakat kelas dua, membuat kasus pelecehan seksual “ringan” seperti yang saya alami di atas, sampai dengan kasus pelecehan seksual yang lebih “serius”, akan terus terjadi. Lemahnya kesadaran perempuan terhadap hak-nya sebagai manusia yang sama derajatnya dengan laki-laki, akan dengan mudahnya dimanfaatkan oleh pihak-pihak atau mereka-mereka yang selama ini selalu merasa di atas angin!
Ngomong-ngomong tentang angin, itulah salah satu sebabnya kenapa saya suka dan butuh uang. Hampir setiap akhir pekan setelah lelah bekerja, saya selalu masuk angin. Karena itu saya perlu kerikan dan untuk itu saya butuh koin. Walau koin kecil wujudnya, tapi ia tetap uang juga, bukan? Jika dikumpulkan bergunung-gunung, akhirnya jumlahnya besar juga. Dan walaupun kegagalan saya pekan itu karena menolak kencan hanyalah kegagalan kecil, tapi ia tetap kegagalan juga. Jika kegagalan itu dikumpulkan bergunung-gunung, akhirnya jadi kegagalan besar juga. Jadi, kejahatan kecil ataupun besar tetaplah kejahatan. Kalau kita menutup mata atau mentolerir kejahatan-kejahatan yang dilakukan Money-pulator semacam mereka….saya tidak mampu membayangkan seberapa besar akibatnya.
Jakarta, 19 September 2005 11:10:06 PM















Apr 19 at 07:39
wah, udah bisa ngisi posting sendiri! bravo! bravo! tapi category-nya dibenerin, tuh! masih default kayaknya, hehehe ….
Apr 19 at 07:41
Waduuuh…maksudnya? tolong dong teachaaaa!:D
Apr 19 at 07:44
itu category-nya kan masih “main page”. g udah ada kan “cerpen”, “film” dll. ada di bawah artikel. bisa bikin category sendiri kan buat yang money-pulator ini. apa, gitu. “money”, atau “perempuan”, hehehehe. trus yg di sideblog, mungkin bisa dikasih judul, tuh. hehehe …
Apr 19 at 07:53
Malez ah. nanti-nanti aja. mesti balik nulis novel ranjang:(
Apr 19 at 19:38
ngomong2 soal masuk angin, saya jadi ingat cerpennya mbak djenar, cerita pendek tentang cerita cinta pendek.
wah, saya jadi kangen pada buku barunya mbak djenar. tahun ini ada rencana terbit nggak ya?
Apr 20 at 12:23
selamat datang di dunia blogsphere…
masih ada waktu kutak katik tampilan biar lebih merangsang !
Salam
Apr 25 at 11:44
Eh, nulis novel dilarang menganggu kegiatan ngeblog, hahaha. Ranjangnya dipreview di blog dong barang 3-4 paragraf gitu
Apr 27 at 15:12
selamat menunaikan ibadah sastra dan film
May 04 at 00:52
conrats n wellcome
May 08 at 04:18
ditunggu ranjang-nya, Mbak..
May 11 at 21:34
wow
saya juga pernah memikirkan hal yg kurang lebih sama.
sedih sekali kl perempuan sering dipandang seperti itu.
May 12 at 00:32
mbak…nyumbang kata-kata ber-uang…
vote me for being GOD
UANG (MONEY)
Kenapa ya kalau mau apa-apa harus pakai uang?
ke sana pakai uang, ke sini pun harus pakai uang
kalau punya uang, kenapa ya kita merasa senang?
kalau uang tidak ada, kenapa ya kita sedih merana?
kenapa ya kita bekerja demi mendapatkan uang?
kenapa ya bukan uang yang bekerja untuk kita?
kenapa ya dia bisa punya uang banyak?
kenapa ya kita tidak pernah bisa punya uang banyak?
kenapa ya uang selalu diperlukan?
entah untuk membeli
entah untuk memberi
entah untuk tertawa
entah untuk turut berduka
kalau uang tidak ada, apakah kita masih tetap ada?
kenapa ya gara-gara uang, nyawa ibu itu bisa melayang?
kenapa ya kalau ingin pintar harus pakai uang?
sebab pengetahuan harus dibeli
sebab sekolahan harus dibiayai
sebab bangku dan peralatan harus pas tidak boleh kurang
sebab guru perlu uang
entah untuk membeli
entah untuk memberi
entah untuk tertawa
entah untuk turut berduka
kenapa ya sekarang uang besok pun uang?
kalau tidak ada uang, lauk makan pun hilang
kalau uang banyak, kita bisa makan enak
kalau uang segudang, dia tidak usah begadang
sebab uang segudang bisa membuat kamu menjadi kondang
sebab uang segudang bisa membuat yang ada menjadi hilang
sebab uang segudang bisa membuat kita tergelak riang
sebab uang adalah uang yang selalu kita sayang
kenapa ya kalau tidak punya uang kita mesti ngutang? (maksudnya juga bisa hanya pake BH doang..)
Jun 04 at 16:54
wuich ‘nai…film loe beratz uy , tapi gw suka, belum selesei smua ditonton siy…udah gatel pengen kasih comment…congratulation yak…nanti after slesei..gw kasih comment lagi
Jun 22 at 09:39
Salam kenal, deh! aku suka sekali dengan baca jalan-jalan n bebrapa tulisan jenar, walaupun belom smua. seeeepplahh!
Jun 22 at 09:41
Salam kenal deh!
Aku suka tulisan jenar “jalan-jalan” n beberapa tulisannya. Walaupun belum smua..
seeeppplah!
Jul 17 at 17:09
kadang ku jg suka bingung mba..
mengapa seringkali idealisme berbenturan dgn kepentingan???..
dunia oh dunia..
Aug 11 at 15:34
beruntung di Indonesia ada penulis perempuan kaya mbak..
ngebuka mata banget.
Sep 26 at 18:32
Salam kenal! fans baru nih. Mbak itu sangat berani dengan imajinasi yang liar
Oct 16 at 08:16
Djenar, anda luar biasa dengan ‘kepolosan’ dan ‘keluguan’ memaparkan tentang keduniawian manusia.
Ada berbagai saran konstruktif, jika kamu ada waktu Kita diskusikan ya..
Dec 07 at 05:29
saya bukan feminis, gak ngarti soal’e jeung
tapi saya setubuh ama situ
*artinya : sangat setuju
harus ada yang diluruskan, bukan tit** ajah yg kudu diluruskan…
viva djenar – luph U much beib…
Jan 04 at 19:15
saya juga tidak pernah lagi berfikir secara perempuan. kenapa harus berfikir secara perempuan kalau hanya berlindung pada laki-laki. tidak usah berfikir sama sekali lebih baik. mari perempuan, berfikirlah…
Mar 12 at 01:10
I wish you could be the first person who comment http://www.sangsore.blogspot.com precisely.
It is going to be an honor for me, the one and only my bitter wine.
May 01 at 11:40
hanya orang tolol yang mengatakan sulit mencari uang, kini permasalahan hidup bukan lagi mencari uang, tapi cukupkah uang kita memenuhi kebutuhan yang ada….? eh, tapi mata uang dan mata keranjang apa bedanya..?
Jun 04 at 20:32
Mba, kog susah ya saya, kirim email ke mba, padahalsih pengennya Mba ngeliat karya-karya juga sapa tau ada yangkecantol hehehehe. btw ini kan email mba, djenarsyuman@hotmail.com? ato ada yg lain mba? ngasih infonya ya
Jun 14 at 22:10
mbak, saya penggemar karya sastra. saya ingin sekali menulis….
saya minta email mbak ya…
facebook saya : nadzif.3006@gmail.com
Sep 30 at 10:53
mbak ni fans baru.ak udh bnyk baca karangan mbak, mmg bner2 bagus nih karyanya,ranjang nya aq tunggu.
Dec 07 at 12:00
Uang hanya alat. Terkadang kita sangat bergantung dgn alat. Uang pun jg punya fungsinya sendiri sebagai alat. Mungkin bs membaca buku ttg sosiologi uang.