Photos Gallery

yiyi, mommy, nyunyu rodma ucit's bday philo art space berenang dma,djaduk,tegoeh anjas,dma maya,virny,dma eka di "kafe betawi":) djenar-yiyi Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 7 Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 6
View more photos >
 

“KOTA” DI DALAM KOTA

May 23

Sudah lama saya ingin menulis tentang Kota favorit anak dan keponakan-keponakan saya, Kidzania, tapi tidak ada fotonya. Ratih Kumala yang sudah dua kali saya ajak berkunjung ke kota ini, juga telah menulis di blognya, www.ratihkumala.com . Tapi saya tetap ingin menulisnya, karena saya pun amat terkesan dengan kota Kidzania. Selain itu untuk urusan foto, kok bisa-bisanya ya saya baru terpikir bisa mencarinya di google? Dan ternyata memang ada. Dasar katro!.

Pertama kali mengetahui adanya Kidzania, yang paling santer terdengar adalah betapa sulitnya mendapat tiket masuk ke sana. Orang tua dan anak-anak rela mengantri panjang tiket Rp. 150.000,- per kepala hanya untuk bisa masuk keesokan harinya. Bahkan tidak jarang baru dapat untuk hari kedua atau ketiga setelahnya. Saat itu pikiran di kepala saya cuma tiga. Pertama, masyarakat kita memang terkenal getol akan tempat baru. Kedua, jangan-jangan itu cuma strategi marketing seperti yang saya dengar dilakukan oleh sebuah usaha bakery di mana mereka sengaja merekrut orang-orang untuk mengantri supaya menarik perhatian calon pembeli. Ketiga, mungkin tempat hiburan anak-anak ini memang layak untuk mendapat sambutan seperti itu. Entah selayak apa, minimal, bagus.

Saya adalah jenis masyarakat biasa yang memang haus hiburan baru untuk anak-anak. Maka di luar apakah itu cuma strategi marketing, dll, saya pun merelakan waktu dan tenaga untuk mengantri lama demi Bidari tercinta. Beberapa kali, kami gagal mendapatkan tiket. Karena waktu ideal bermain anak-anak memang hanya akhir pekan. Tapi untungnya saya bukan orang tua yang terlalu membebani anak dengan keharusan tiap hari sekolah. Jadi waktu anak dan keponakan-keponakan saya sama-sama sedang malas sekolah, kami menggunakan waktu bolos itu untuk meluncur ke gedung Pacific Place di mana Kidzania berada, dan cita-cita kami akhirnya tercapai jua.

 

Kesan saya pertama kali menjejakkan kaki di Kota Kidzania setelah melewati prosedur check in layaknya Bandara, mungkin tidak jauh beda dengan anak-anak, orang tua yang lain, juga Ratih. Wooow! Itu kata pertama yang terucap. Ada kota lain di dalam kota Jakarta. Ada sebuah kota di dalam gedung pertokoan! Saya sudah tidak melihatnya sebagai wahana bermain. Saya lebur menjadi bagian penduduk Kota Kidzania yang mempunyai mata uang bernama Kidzos. Saya jatuh cinta.

Kami langsung sampai di pusat kota. Disambut dengan parade dimulai dari Alun-alun yang dikitari Rumah Makan, Gedung Teater, Salon, dan Galeri Melukis. Yang pertama kali kami lakukan adalah menyimpan mata uang Kidzos yang diberikan saat kami check in ke Bank BCA, yang nantinya bisa ditarik melalui ATM. Yang menarik adalah orang tua hanya boleh menemani tanpa diperkenankan untuk membantu anak-anaknya. Jadi pelajaran pertama yang didapatkan anak-anak adalah bertanggung jawab pada aset yang dipunyai mereka, baik materi maupun dirinya sendiri. Setelahnya kami mengitari sepanjang jalan di kota itu. Rumah sakit, Pemadam Kebakaran, Perusahaan Gas Negara, Supermarket, Kantor Polisi, Pengadilan, Penjara, Halte Bus, Pompa Bensin, Balap Mobil, di bawah nama-nama perusahaan-perusahaan terkenal seperti BCA yang nampaknya bekerja -sama dengan Kidzania, memadati lorong jalan. Setelah berkeliling, kami naik ke lantai dua, Apotik, Dokter Bedah, Pabrik minuman dan makanan ringan, Diskotik, sampai Stasiun Televisi lengkap ada di sana

Lantas, apakah fungsi segala fasilitas itu? Bermain apa? Ternyata konsep Kidzania bukanlah sekadar wahana bermain, namun bermain, bekerja, dan belajar. Anak-anak yang di sana dipanggil dengan sebutan Ibu atau Bapak, bekerja di tiap wahana, diberi upah yang nantinya bisa dipakai untuk membeli makanan dan minuman. Jika tidak membeli makanan pun, mereka tetap bisa bekerja di pabrik burger, biskuit, coklat, es krim, mie instant dan air mineral. Mereka diajari bagaimana cara membuat makanan tersebut, dan berhak mendapat apa yang sudah dibuatnya plus upah mereka. Karena itu uang Kidzos anak saya sudah menumpuk karena jarang sekali dipakai. Ia lebih suka mengikuti proses pembuatan ketimbang langsung membeli produknya. Di beberapa wahana lain seperti Rumah Sakit, Pemadam Kebakaran, Balap Mobil, mereka terlebih dulu dipandu pembimbing mengenai prosedur kerja. Jika ingin balap mobil, misalnya, mereka harus terlebih dulu mengurus pembuatan SIM. Pemadam Kebakaran, mereka terlebih dulu memakai seragam, berkumpul di satu ruangan untuk diberi instruksi kenapa kebakaran terjadi juga letak lokasi, sebelum akhirnya meluncur dengan mobil pemadam kebakaran menuju sebuah gedung yang menyala oleh sebab penerangan lampu berwarna merah dari dalam jendela hingga terlihat seolah benar-benar terbakar. Di sana mereka bekerja sama memadamkan api. Ketika “api” benar-benar padam, anak-anak bertepuk tangan dan saling bersalaman dengan rasa bangga terpancar di paras mereka. Rasa bangga itu juga terpancar setiap kali mereka berhasil menangkap penjahat, mengadili, dan menjebloskannya dalam penjara. Juga ketika mereka selesai menghafal naskah teater, memakai kostum, dan tampil dalam pertunjukan drama di Gedung Teater Kidzania, atau ketika berhasil mengobati pasien sakit gigi yang terlalu banyak makan permen dan mengoperasi pasien pengidap sakit jantung akibat banyak merokok. Saya pun sebagai orang tua ikut bangga, walau akhirnya jadi bosan dinasehati bahaya merokok oleh Bidari dan juga bosan harus menunggu 15-20 menit per wahana.

Sebenarnya, di lantai dua sudah disediakan ruang tunggu bagi orang tua, dilengkapi fasilitas internet, home theatre, cafe, dan tentu saja sofa yang nyaman. Dari sana juga kita bisa memantau anak-anak sedang bekerja di wahana mana melalui gelang detektor yang diberikan sebelum masuk. Jadi bagi yang sudah lebih dari satu kali ke sana akan paham, melepas anak-anak di Kota Kidzania keamanannya pasti terjaga. Tapi sekali lagi, jika sudah kesana lebih dari sekali. Jika baru pertama kali, orang tua pada umumnya, juga saya, pastilah ngeri melepas anak di kota sebesar itu.

Rasa was-was sebagai pengunjung yang baru pertama kali datang inilah yang membuat saya berkenalan dengan seorang Ibu ketika sedang sama-sama menunggu. Ia ngomel-ngomel, “Mau main kok susah amat! Mesti bikin SIM lah, dikasih instruksi dulu lah, ini pasti cuma ngulur-ngulur waktu biar gak kesampaian main semua wahana dalam 5 jam dan akhirnya kita balik lagi! Mana mahal lagi!” Saya tidak merespon. Saya cuma heran, sebagai orang tua saya lebih prihatin jika anak-anak bermain tanpa mendapat pendidikan apa-apa. Masalah mahal atau tidak, adalah masalah relatif. Tapi jika membandingkan nilai rupiah 150.000,- dengan tempat bermain lain, justru jatuhnya lebih murah. Karena praktis kita tidak perlu mengeluarkan kocek untuk makanan atau minuman. Di luar makanan utama atau ringan, juga air mineral yang bisa didapatkan dengan cara bekerja, Kota Kidzania menyediakan mesin air bersih di tiap pojok jalan. Saya pernah ingin mencobanya dengan Ratih. Tapi takut salah. Jadi kami menunggu sampai ada anak kecil yang memakai, dan barulah kami tahu mana tombol yang benar. Sekali lagi, saya memang katro!

Begitulah sedikit banyak pengalaman saya dengan anak-anak di Kota Kidzania. Kota yang selalu memanggil kami kembali untuk melepas kepenatan Jakarta. Kota di mana saya bisa kembali menjelma jadi kanak-kanak. Kota yang mengajarkan kanak-kanak bahwa cita-cita harus diraih dengan ketekunan, pengalaman, dan kerja keras. Kota yang kini mulai sepi pengunjung. Kota yang mungkin sebentar lagi akan dijiplak dan dibangun oleh pengusaha lain, karena memang begitulah mental masyarakat kita, hanya mencontoh tanpa pernah berusaha mencipta. Masyarakat yang cepat bosan dan lupa. Tapi saya tetap cinta.

27 Comments

Add your comment

  1. ulan
    May 23 at 10:18

    saya juga cinta Indonesia mbak..

  2. KiMi
    May 23 at 12:21

    Ehm… Jadi tertarik ingin kesana dan mengajak keponakan-keponakan saya. Tapi, tiket masuknya itu loh gak nahaaan… Untuk ukuran mahasiswi duafa seperti saya 150ribu itu mahal pisan, euy!

  3. ratih kumala
    May 23 at 14:07

    hwakakakaka… iya tuh, aku inget waktu kita katro! amit-amit deh. mau minum pake air yang dipencet itu gak bisa. terus lihat anak kecil dulu, yang minum dan berjalan dengan pe-de.

    hihihi… betulan nih, lama-lama kita jadi jubirnya Kidzania!

  4. inu382
    May 23 at 15:05

    wew,,

    jd pengen maen ksana.. hehehe

    *’masa kecil kurang bahagia’ mode : ON*

  5. ndoro kakung
    May 24 at 21:49

    wuih, ini artikel dibayar kidzania gak? hehehe… kidding :D

  6. ekakurniawan
    May 25 at 20:42

    mom, kalo masukin foto, kasih yang resolusinya gede, dong. fotomu sama yiyi itu, kalo di-klik, ada versi gedenya, lho. begitu pula kalo kamu cari di google, diklik aja. jangan pake versi tumbnail gini, kekecilan. hehehe…

  7. djenar
    May 26 at 07:06

    wadoooow….!:)

  8. Si Pemimpi
    May 26 at 22:58

    wah, mbak, apa kabar? sekarang blogging juga ya ternyata … kapan ke malang lagi? saya sudah bisa nulis cerpen lho sekarang :D .

    mas eka, kapan ke malang? launching di malang dong.

  9. belo
    Jun 23 at 09:37

    saya benci banget kidzania. ‘kota’ itu benerbener jadi salahsatu fenomena modernisasi yang bikin anak dewasa sebelum waktunya (atau konsumtif sebelum waktunya?)
    ‘pesen sponsor’nya, konsep megang duitnya, hah..
    kidzania tu mustinya ditargetin buat orang2 dewasa yang pengen lari dari kenyataan,, sesekali make fun of the world

  10. frankee96
    Jun 27 at 05:02

    hehehe…sori neh bwat “belo”, karena saya kurang sependapat dgn anda. kalau soal dewasa sebelum waktunya, gimana dgn artis cilik? Soal pesan sponsor…hari gini apa seh yang gak pake sponsor (ketika saya sd saja, sering dpt majalah gratis, minum susu gratis, dan sponsor2 lainnya )…soal pegang duit, ketika saya tk saja pakai uang 25 perak sudah main dagang2an (dan sekarang dagang beneran…).kalo soal sarana org dewasa lari dari kenyataan, banyak sarananya kok, tapi baru di luar negeri, belum di sini.
    anda bisa berlatih jadi agen rahasia ala 007 atau berlatih wrestling ala WWE, dll yang penting ada dana dan kemauan.
    nah, kalo di Indonesia yang saya pernah ikut adalah berlatih bersama Kopaskhas dan dapat “wing” juga lho…(fotonya ada di FS saya).
    kalo yang mur-mer seh ada juga : jadi penulis di blog atau ngomentarin blog org lain kayak saya aja…hehehe

  11. bhayu
    Jul 25 at 10:08

    aku jadi inget nganterin anakku ke sana. haduh, pas ngelepasin dia jalan masuk ke kidzania ama pengasuhnya rada terharu gitu. kayak ngelepasin dia di airport beneran mau sekolah ke luar negeri. hiks. cepet banget gede emang anak jaman sekarang.

  12. bernike
    Jul 25 at 11:33

    wah, tampaknya saya ketinggalan jaman nih. emang ada ya permainan begituan di jakarta? saya pengen kesanaaaaaaaaaa….. ;P

  13. mew
    Aug 08 at 12:07

    :D waah… emang kidzania oke. cuma duiiinggiiiiinn mbak.. kalau gak salah kidzania udah ada saingannya ya? di jakarta juga..

    salam,
    mew

  14. sunlie thomas alexander
    Aug 16 at 14:07

    ah, kayaknya asyik kota itu… tapi, seusiaku gak bisa ikut main lagi ya? aduh, jadi pingin jadi kanak-kanak abadi kayak peter pan…

  15. sigit
    Sep 02 at 15:09

    duh jadi terbayang betapa asiknya di dalam sana, jadi pengen kesana…..!

  16. caroline
    Nov 03 at 18:38

    hi, mbak… akhirnya kau menemukan blogmu nih… hehehe…

    aku juga suka banget ke kidzania, anak2 jadi bisa banyak ngerti tentang dunia orang dewasa dan mereka juga jadi menghargai duit. banyak deh yang bisa didapet dari jalan2 ke kidzania. :)

  17. Putri Sarinande
    Dec 07 at 07:45

    gak ikutan,,,
    yah…yg susah adalah negeri ini emg susah diajak bule otaknya :D
    pingin bule cm nginggris sepotangsepotong ;-)

  18. ardi
    Dec 21 at 18:03

    mbak Djenar, thankyou ya dah mau foto sama saya, perkenalkan nama saya ardi dan yang tadi siang foto bareng mbak di acara seminar pujangga…
    saya juga pengen mbak bisa nulis kaya mbak, namunn saya belum berkeinginan untuk menerbitkan buku, karena saya punya sifat pesimis yang sangat tinggi,, hhehe
    semoga seminar tadi membuat saya berubah, amien
    thankyou a lot of ya mbak…

  19. hope.bones
    Mar 12 at 00:58

    if you are addicted to pain, i might be addicted to your masterpiece.
    You are the one and only my bitter wine…

  20. mei-mei
    May 24 at 10:35

    mau ksna…
    trtarik skali,
    tp gak ad anak kcl yg bs dibawa,
    huhuhu…
    T.T

  21. prad
    Jun 26 at 19:51

    belum baca sampai akhir…..
    saya cuma numpang lewat hehee
    salam kenal mbak djenar kbetulan baru ja bli karya pertama anda hehehe

  22. telly arie
    Aug 26 at 14:45

    lv u mbak djenar^
    tQ info kidzania ny..inginku segera merit dan puny baby, diajakin dehh jalan-jalan ksana..

  23. Mike-081310976800
    Dec 04 at 17:26

    SALAM KIDZANIA

    Pasti banyak hal yang seru dan keren main ke Kidzania.
    Dalam rangka menyambut Tahun Baru 2010 KIDZANIA mengadakan Paket GRUP Tahun Baru dengan tiket masuk Rp. 75.000 per anak dan dewasa.
    Min grup 15 anak. Dan tiap 15 anak ada free 1 tiket masuk dewasa.
    Info dan Reservasi :
    Mike-Ministry of Tourism Kidzania di 081310976800/ mike@kidzania.co.id

    Sampai ketemu di Kidzania

  24. itha
    Dec 14 at 10:29

    apapun yg djenar tulis, bikin gw pnasaran…

  25. anggri sugiyanto
    Dec 17 at 18:13

    seandainya dibuat juga tempat seperti ini untuk manusia dewasa yang lebih besar dan lengkap. karena kita yang dewasa juga butuh tempat seperti ini, ditambah biaya yang sangat terjangkau. mungkin jadi terapi yang sangat memasyarakat.
    oiya, saya penggemar mbak djenar, mudah2an up to date ya tulisannya di blog ini, terima kasih.

  26. Bramantyo
    Dec 21 at 15:49

    Untuk Djenar dan Indra selamat atas piala yang didapat. Sekitar 6 bulan lalu saya pernah kasih komen tentang tulisan-tulisan Djenar Maesa Ayu. Tulisan DMA diluar kebiasaan para novelis yang lain dan ini merupakan kelebihan dari seorang yang bernama DMA. Dan melalui berita di salah satu TV terkait perolehan piala tsb. saya baru tahu kalo DMA putri dari tokoh besar perfilman Syuman Djaya. Sekali lagi selamat dan terus berkarya

  27. kristiani
    Feb 01 at 17:18

    Djenar aku kagum padamu,bukan hanya krn karya2mu saja tapi pribadi n kehidupanmu yg penuh liku membuatku salut!

Post a comment