Photos Gallery

yiyi, mommy, nyunyu rodma ucit's bday philo art space berenang dma,djaduk,tegoeh anjas,dma maya,virny,dma eka di "kafe betawi":) djenar-yiyi Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 7 Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 6
View more photos >
 

IMAJI YANG MEMUDAR (SEKELEBAT INGATAN TENTANG BUNG SJUMAN DJAYA)

May 10

Mungkin, saya tidak lebih layak untuk mempresentasikan Sjuman Djaya yang akrab saya panggil Bung, baik dari sudut pandang Sinematografi bahkan sebagai anak, dibanding kedua anak Bung Sjuman yang lain dari hasil pernikahan pertamanya dengan Farida Oetoyo, Arya Yudistira Sjuman dan Sri Aksana Sjuman. Kenapa? Pertama, saya penikmat. Bukan pengamat. Kedua, dibanding kedua kakak saya, kualitas maupun kuantitas pertemuan saya dengan Bung Sjuman sendiri terbilang yang paling minim.

Beruntung Bung Sjuman mengambil jalur seni semasa hidupnya, sehingga karya-karyanya maupun kiprahnya sebagai seorang seniman, memungkinkan saya atau siapapun, tetap punya kesempatan untuk mengenal beliau lebih jauh.

Dan itulah yang saya lakukan sekarang. Di saat waktu sedikit demi sedikit mengikis imaji Bung Sjuman sejak ia tutup usia tanggal 19 juli 1985, hanya dengan menonton film-film karya beliau senantiasa membuat saya sedemikian mudahnya kembali merengkuh imaji yang mulai pudar tadi. Yang paling terasa hadir dalam tiap karya Bung Sjuman adalah obsesinya terhadap masalah sosial. Saya pun akan segera ingat akan cara bicaranya yang meletup-letup kala berdiskusi tentang politik hingga film dengan para sahabatnya di rumah kami yang terletak di bilangan cukup elite Jakarta Pusat, kondisi yang amat jauh berbeda dengan masa kecil Bung Sjuman yang besar di kawasan Kebon Kosong, Senen. Kendati begitu, tetap banyak hal yang lekang dalam diri Bung Sjuman. Cara duduknya dengan mengangkat satu kaki demi menyangga satu tangannya yang kerap memegang cangklong, gaya berpakaiannya yang santai dan hampir selalu memakai celana sate dipadu dengan kaos oblong, juga celetukan-celetukan nyeleneh dengan logat khas Betawi anak Kebon Kosong, adakah salah satu bentuk sikapnya melawan budaya modern yang digugatnya dalam ”Si Doel Anak Modern” atau kritiknya atas kebobrokan moral dan sosial akibat pembangunan yang berlangsut pesat, yang terekam dalam ”Kerikil-Kerikil Tajam”?

Terlahir dengan nama Sumanjoyo karena kedua orang tuanya berdarah Jawa asli. Ayahnya dari Purworejo dan ibunya dari Begelen, Sumanjoyo kecil diboyong ke Jakarta. Tinggal di daerah Utan Panjang, Kemayoran, daerah yang amat kental dengan budaya Betawi sebelum akhirnya pindah ke Kebon Kosong itulah, Bung Sjuman (saat itu lebih akrab dpanggil Manjoy) harus menerima kenyataan pahit terpisah dari ayahnya yang meninggal ketika beliau masih berumur 10 tahun. Lantas Bung Sjuman dibesarkan oleh ibunya yang tetap tidak menikah sampai akhir hayatnya. Salah satu yang menarik dari sosok Sang Ibu adalah –walaupun saya belum pernah bertemu dengan kedua Eyang saya–, pernah saya dengar jika Ibu dari Bung Sjuman ini tetap tidak terbiasa memakai alas kaki sekalipun sudah tinggal di Jakarta, dan ia menolak untuk memakai alas kaki jika hanya untuk alasan ”kepantasan”. Ibunya memang sosok yang kuat. Dan Bung Sjuman memuja perempuan-perempuan kuat. Hal ini pun yang terlukis dalam karya-karya Bung Sjuman, antara lain, “Kabut Sutra Ungu” (1978), “Kartini” (1982), “Budak Nafsu” (1983), hingga “Opera Jakarta” (1985).

Bung Sjuman menimba ilmu di Taman Siswa, dan tamat SMA sekitar tahun 1950 di Taman Madya. Sejak sekolah minatnya pada seni sudah terasa. Bung Sjuman terlibat dalam kegiatan teater, dan pernah main dalam pementasan sekolah berjudul ”Awal dan Mira” yang disutradarai oleh H. Misbach Yusa Biran. Beliau pun mulai tertarik pada sastra. Kekagumannya pada Chairil Anwar, Anton Chekov, Rabindranarth Tagore, John Steinbeck, memicu beliau mengawali kariernya sebagai penulis cerita pendek dengan memakai nama pena Sjuman Djaya. Cerita pendeknya yang berjudul ”Kerontjong Kemayoran” diangkat ke skenario film dengan judul ”Saodah (1956)”. Tahun 1958 Bung Sjuman mendapat beasiswa untuk menuntut ilmu di Institut Sinematografi Moskwa dan lulus cum laude pada tahun 1965. Maka sejak debut pertamanya sebagai Sutradara dalam film ”Lewat Tengah Malam” (1971) lahirlah salah satu karya terbaik dan juga salah satu karya Bung Sjuman yang amat saya kagumi,”Si Mamad (1973)” yang dibuat berdasarkan cerita pendek karya Anton Chekov dan berhasil meraih Penghargaan Film Terbaik.dalam ajang Festival Film Indonesia 1974.

Film ”SI Mamad” sendiri bercerita tentang seorang pegawai kecil yang terpaksa korupsi karena terdesak oleh kebutuhan hidup, ditambah istrinya (lagi-lagi) mengandung. Tetapi Mamad begitu menyesali perbuatannya, lantas ia berusaha meminta maaf kepada atasannya sebab ia merasa sudah mengambil hak orang lain. Ia berusaha mencari atasannya untuk meminta maaf, namun gagal. Penyesalan inilah yang menyiksanya sepanjang hidup dan dibawanya hingga ke liang kubur.

Bung Sjuman memang sudah menegaskan sikapnya sejak debut pertamanya menjadi sutradara yaitu pengkritik sosial. Sikap itulah yang terus dipegangnya hingga ”Opera Jakarta (1985)”. Inilah ciri khas karya-karya Bung Sjuman. Kendati begitu, Bung Sjuman tidak jarang memakai pendekatan komedi maupun romantik dalam karya-karyanya. Bahkan dalam film ”keras” semacam ”Opera Jakarta” yang menampilkan tokoh Yoko seorang pembangkang dan anti kemapanan sekalipun, keromantikan itu tetap terasa.

Bung Sjuman memang seorang pembangkang sekaligus seseorang yang amat romantis. Salah satu hal dalam diri Bung Sjuman yang tidak bisa terlewat dalam kenangan ketiga istrinya. Bung Sjuman meminang seorang balerina, Farida Oetoyo, di Moskwa, di bawah keredap lilin di atas meja dan denting gelas anggur merah. Dan dengan cara yang sama pula, Bung Sjuman mengakhiri pernikahan pertamanya itu : di bawah keredap lilin di atas meja dan denting gelas anggur merah. Sebuah awal dan akhir tali pernikahan yang romantis ini, memang menandakan betapa hubungan keduanya setelah itu tetap berjalan baik. Bahkan Bung Sjuman masih amat perhatian kepada mantan istrinya. Ketika Farida Oetoyo dipinang oleh pengusaha negeri jiran Malaysia, Feisol Hasyim, dan Bung Sjuman diundang makan malam oleh Feisol sebagai upayanya menjalin tali silaturahmi, terjadilah satu peristiwa lucu. Feisol bertanya apa makanan yang ingin dipesan oleh Bung Sjuman, dan untuk menunjukkan entah ketidak-sukaannya pada Feisol, entah karena masih dibakar cemburu, beliau menjawab pertanyaan laki-laki yang memeluk agama islam itu dengan nada mengejek, ”Saya mau pesan sate babi!”

Setelah resmi bercerai dengan Farida Oetoyo, Bung Sjuman menikah dengan Ibu saya, Tutie Kirana, seorang aktor. Pernikahan yang hanya bertahan selama satu tahun ini toch bukan hanya sebuah perjalanan yang bisa dengan mudah diliupakan karena banyak hal yang saya sendiri tidak pernah atau bisa bayangkan ada seorang laki-laki mampu melakukannya. Salah satu cerita dari Ibu saya adalah, Bung Sjuman memperlakukan Ibu seperti bayi, bahkan ia menyiapkan minuman di dalam botol susu dengan dot untuk diminum oleh ibu saya layaknya bayi. Namun perbedaan sikap dan visi hidup jualah yang akhirnya membuat Bung Sjuman memutuskan untuk pergi tanpa pernah bersedia menceraikan istri keduanya ini secara resmi.

Lama hidup sendiri, akhirnya Bung Sjuman melepas masa lajangnya tahun 1984 dengan menikahi aktor muda Zoraya Perucha yang berselisih umur dua puluh tiga tahun. Sayang, di puncak kebahagiaan mereka, Bung Sjuman meninggalkan kami semua di usia hampir menginjak 52 tahun. Kala itu Bung Sjuman benar-benar berlomba dengan waktu. Dalam kondisi kesehatan yang tengah menurun, dua hari berturut-turut beliau syuting ”Opera Jakarta” hingga dini hari. Hal ini lah yang mungkin membuat Bung Sjuman terkapar dan menghembuskan nafas terakhir seusai shalat Jumat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo jam 15.30. Film ”Opera Jakarta” akhirnya diselesaikan oleh editor beliau, Norman Benny. Sementara warisan skenario Bung Sjuman ”Terang Bulan di Tengah Hari” difilmkan oleh Zoraya Perucha tahun 1998. Namun film ini gagal di pasaran.

Pada satu ketika, saat saya bertanya apa yang dimaksud oleh seorang penulis lewat salah satu karyanya yang saya baca dan tidak saya mengerti, Bung Sjuman menjawab, ”Jangan kamu coba-coba membaca sastra, tapi biarkan sastra membacamu.” Saat itu saya tidak mengerti. Tapi sekarang saya mengerti, dan karya-karya Bung Sjuman jualah salah satu hal yang membuat saya bisa mengerti. Bagi saya, sekali lagi, walaupun sejak awal Bung Sjuman telah menegaskan sikapnya dalam berkarya adalah medium untuk mengkritik masalah sosial, beliau berhasil mengangkat semua isu sosial maupun politik tersebut tanpa kesan ”ngotot”. Sebagai pencerita, kekuatan terbesar Bung Sjuman adalah skenario. Bahasa yang tidak dibuat-buat amat relevan dengan tiap tokoh, kultur, dan masanya, tanpa ada tendensi memintar-mintarkan percakapan sehingga dialog terasa mengalir. Beliau pun mampu membuat tokoh-tokoh atau karakter-karakter yang amat kuat lantas dengan berani mengejek tokoh-tokoh yang dibuatnya sendiri itu. Namun justru caranya yang sarkartistik inilah yang membuat karya-karya Bung Sjuman tak berjarak dengan penikmatnya. Kita dapat langsung merasakan bahkan mengalami peristiwa-peristiwa dalam gambar, sehingga kadang kita disadarkan dan malu pada diri kita sendiri yang ternyata tidak lain tidak bukan adalah bagian dari kemunafikan dan kebodohan di depan kita. Dan pada saat diri kita seolah ditelanjangi, ketika keharuan, kebahagiaan, mencengkeram sanubari, ketika kita menemukan diri kita yang sebenarnya di depan sebuah karya, pada saat itulah karya tersebut berhasil membaca kita.

”Dia yang paling jelas mau ngomong apa. Ini menarik, apalagi di tengah Film Indonesia yang bisu, tidak tahu mau bicara apa. Sjuman juga yang secara jelas menghubungkan film sebagai alat ekspresi pribadi dengan realitas sosial” ujar Arifin C. Noor (1941-1995). Itulah Bung Sjuman dalam ingatan salah seorang sahabatnya, dan ingatan semua orang yang pernah dicintai sekaligus mencintainya. Anak Jawa yang jadi Anak Betawi. Anak Betawi yang jadi ”Anak Modern”. Anak, suami, ayah, sahabat, seniman, yang selalu bicara jujur apa adanya dengan hatinya. Yang maupun begitu, bisa juga terkaget-kaget jika ada yang bisa merespon celetukan-celetukan gilanya dengan kegilaan yang sama, seperti yang terjadi suatu pagi kala beliau berusaha membangunkan saya agar tidak terlambat sekolah, *”ji, ro, lu, sopo gelem tempik asu?!” , candanya. Saya memang akhirnya terbangun dan tertawa, lantas menjawabnya, *”ji, ro, lu, sopo gelem tempik aku?!” Seperti apa ekspresinya saat ia mendengar respon saya itu? Sulit mendeskripsikannya. Yang jelas momentum itu adalah salah satu saat terindah di hidup saya dan selalu terekam dalam kepala walau waktu terus berputar dan memaksanya untuk pudar.

***

Jakarta, January 20th, 2008 12:20:51 PM

*satu dua tiga, siapa mau me*ek anjing!

*satu dua tiga, siapa mau me*ek saya!

Dimuat di katalog Singapore International Film Festival 2008

A Tribute to Sjuman Djaya

33 Comments

Add your comment

  1. bje
    May 11 at 12:26

    akhirnya saya menemukan ruh-ruh tulisanmu lebih banyak lagi di sini…

    thanks…… sambung terus…. ibu

  2. kuyazr
    May 12 at 00:39

    ji ro lu saya mau!

  3. totot
    May 18 at 10:21

    Di saat yang sama lu bilang gue pereezzz, di sini ada tulisan bagus kayak begini. Bukan gue lho yang ngomong… :P

  4. butet kartaredjasa
    May 18 at 15:48

    Uhuk, uhuk, uhuk….sungguh teks yang mengharukan. Ji ro lu: sapa gelem kontolku…. Dji Sam Soe: aku gelem susumu he he he

  5. djenar
    May 20 at 08:19

    Muatamu, tol!

  6. ndoro kakung
    May 24 at 21:31

    waks??? elok tenan bahasane :D

  7. chocoholic
    Jun 16 at 15:25

    bagus sekali tulisannya mbak. terus terang saya agak ketinggalan kalo sudah masalah film dan buku indonesia. saya harus minta kirim salah satu buku mbak. but this blog is wonderful!

  8. eka
    Jun 19 at 15:48

    umm.. history yang sangat amat menarik..

  9. Meirinda
    Jun 21 at 11:52

    Keren banget bu..miss u!

  10. djenar
    Jun 22 at 23:08

    Mei, miss you 2, soooo much! baik2 aja kan.
    chocoholic, nanti kapan-kapan dikirimin deh:) cheers

  11. bagus al haqq
    Aug 19 at 19:02

    sumpah demi luna maya aku baru tau wajahnya bang sjuman !!!!
    aku cuman tau bukunya yg buat chairil anwar

    mbak mampir balik dong dan di tunggu
    komentarnta dari blogger kawakan
    hehehe

  12. Mea maxima culpa
    Aug 19 at 20:58

    Hehehe bapak yg tidak menjadi bapak

    yo po ra su?

  13. J
    Aug 26 at 14:11

    u always awakening my imaginations with your writing

  14. mantan kyai
    Oct 16 at 12:48

    ji ro lu… aku gelem wekmu :D

  15. arie
    Oct 26 at 20:40

    me*ek gimana bacanya??
    Me bintang ek??

  16. benarkah engkau?
    saya ingin sekali tau norman beny berada?
    e-mail aja ke alamat saya!

  17. shaugi zara noor fithrony
    Nov 14 at 20:31

    benarkah engkau?
    saya ingin sekali tau norman beny berada?
    e-mail aja ke alamat saya!
    anak ibu dimas herny/suherny

  18. Krsna Deva
    Nov 23 at 15:06

    Membaca ulasan tentang bung Syuman terasa menarik sekali. Especially ynag menulis adalah orang yang memiliki ikatan emosional dengan bung Syuman. Pada waktu saya di Moscow – meskipun rentang tahunnya lebih dari 20 tahun – bung Syuman masih menjadi pembicaraan diantara orang -orang Indonesia yang berada di sana. Semoga akan lahir karya karya hebat seperti yang pernah beliau ciptakan. Tulisan Djenar terasa sangat menyentuh. Bagus bauanget. Kapan ya, AKU difilmkan,…… ?

    Regards,

    Krsna

  19. Putri Sarinande
    Dec 07 at 04:32

    mbak djenar, binun mo komentar apa?
    jadi maap numpang pasang link ajah :D
    eh, mmm,,,bikin buku kumpulan esey kan mbak?!
    itu, kamu mo nge-pelem-in AKU mbak?
    pokona mah gudlak weh nya,,,
    dijamin moal gagal :D

  20. Putri Sarinande
    Dec 07 at 04:35

    ada eyang butet? keren pas jd presiden ;-)
    jadi ajah bisa buka link nya :D

    @ mbah butet : mbah, mun sam soe mah atuh udud-nyah bondon patah hati :D (kata teman sayah, si germo. bacanya pke hurup E pada kata bebek, bukan hurup E pd kata beli…penting tuh…)

    NB : mbak, itu link ud ke blog sy kok ;-)

  21. anton Solo
    Dec 16 at 21:50

    Djenar mbok ku. tambah Bir nya.

  22. nanda galak
    Dec 24 at 20:13

    tribut to syuman djaya and his daugther

  23. tuti fruity
    Dec 24 at 20:27

    mba… film cinta setaman… dahsyat…

  24. Ratu anggita lestari
    Feb 16 at 10:32

    i am your fans….
    saya suka baca nayla. karya yang penuh dengan imajinasi nyata.
    saya juga ingin menjadi penulis seperti anda.
    tolong dukung saya!
    terima kasih.

  25. Ratu anggita lestari
    Feb 16 at 10:33

    Jika ada waktu tolong beri saya saran, bagaimana cara menjadi penulis yang mampu berekspresi bebas.
    terima kasih.

  26. wanita iblis
    Mar 24 at 14:08

    ternyata bapak anak sama2 aneh hehe.. tapi tulisan jeng djenar emang oke punya… jujur dan apa adanya..

  27. nanci
    May 23 at 10:53

    wah… ternyata ad blog nya juga….
    agak aneh tapi, tapi yang aneh2 itu yang bikin beda, karya nya juga beda….
    aku nge fans banget nih ma mbak djenar….
    ,mau tanya dong kalo bung sjuman nikah ma Tutie Kirana setahun, mbak djenar tinggal nya sama ayah ya??

  28. Ratih Pras
    May 27 at 21:28

    Terimakasih. Anda telah berani memberi tahu masyarakat tentang contoh nyata pola asuh yang sangat tidak elok dan maha kacau.
    Semoga ke depan tidak ada lagi anak-anak yang menjadi korban seperti anda

  29. adinda
    Oct 23 at 10:36

    saya suka semua tulisan ibu djenar.
    itu membuat saya jadi terinspirasi untuk menulis…

  30. sari kartika
    Dec 17 at 11:41

    membaca tulisan dan karya-karya Anda selalu membuat saya merasa tertohok…kejujuran Anda dalam setiap rangkaian kata seperti menyadarkan saya bahwa kita bisa jujur dan tidak perlu munafik…karena hidup ini sendiri memang harus dihadapi dengan kejujuran…biar lebih lapang menjalaninya…toh hidup manusia itu tidak aka aturan pas-nya seperti apa…semuanya relatif..tergantung situasi dan kondisinya…tidak ada daftar siapa yang jadi korban dan pemangsanya…semua bisa terbolak-balik…tinggal tergantung kita…mau jujur atau tidak…dan saya salut pada Anda…karena berani berkata dan mengungkapkan semuanya dengan penuh ke-JUJUR-an…salut…!!!!

  31. koprem
    Jan 05 at 14:56

    menginspirasi…

  32. ea
    Jun 13 at 21:11

    ehm penasaran bgt sama dilm SAIA nya, bisa di tonton dimana mabk??

  33. cublux jogja
    Jul 19 at 00:51

    wangun…tulisanmu koyo bapakmu. Pancen pelem tibo ra adoh soko uwite. Aku tau rikolo semono tau nemu buku piala citra 82 yen ra salah. neng kono ono jeneng2 tukang nggawe film sing kondang. aku tresna ro bapakmu…pancen sliramu lan sedulurmu soko bibit sing apik.

Post a comment