Photos Gallery

yiyi, mommy, nyunyu rodma ucit's bday philo art space berenang dma,djaduk,tegoeh anjas,dma maya,virny,dma eka di "kafe betawi":) djenar-yiyi Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 7 Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 6
View more photos >
 

HARI PERTAMA DI NEGERI SINGA

May 12

Tanggal 11 April 2008, saya terbang ke Singapura. Itu bukan pertama kalinya saya datang kesana untuk menghadiri Singapore International Film Festival. Tahun lalu saya mewakili Film “Koper” (the lost suitcase) sebagai aktor, ke Singapore maupun Bangkok International Film Festival bersama Maya Hasan dan Richard Oh sang sutradara.

Namun perjalanan kali itu bagi saya amatlah istimewa. Pertama, itulah kali pertama saya bepergian lintas udara sendirian tanpa menenggak pil penenang-hal yang biasa saya lakukan karena saya phobia ketinggian. Kedua, saya mewakili film saya sendiri “Mereka Bilang, Saya Monyet!” yang masuk ajang kompetisi Silver Screen Award, katagori Best Asian Feature Film. Ketiga, pada hari yang sama film “Mereka Bilang, Saya Monyet!” diputar tgl 13 April di Museum Nasional, kedua film almarhum ayah saya, “Kerikil-kerikil Tajam” dan “Si Mamad” pun diputar, sebagai bagian dari acara Festival tersebut dengan tajuk A Tribute to Sjuman Djaya.

Pukul 14.15 saya mendarat di bandara Changi. Seorang panitia menjemput saya dan langsung mengantar ke hotel Hang out yang terletak di jalan Upper Wilky. Bagi yang tidak malas berjalan mendaki selama 10 menit dari MRT terdekat, hotel ini boleh dijadikan alternatif. Ia sejenis hotel back packer, namun kondisinya amat bersih dan rapi. Kita bisa berbagi kamar dengan tamu lain dengan hanya membayar untuk per satu tempat tidur. Tersedia layanan internet dan kopi gratis di lantai tiga, mesin cuci di basement, tapi di kamar tidak menyediakan televisi, lemari es, sikat gigi. Handuk pun tidak tiap hari diganti. Mereka juga tidak menyediakan jasa bell boy, maka kita tidak bisa mengandalkan jasa orang lain selain diri sendiri. Satu lagi, tidak boleh merokok di dalam ruangan! Untungnya, saya mendapat kamar ukuran besar, paling besar malah, terdiri dari satu twin dan satu single bed dikelilingi dengan jendela-jendela besar jadi saya bisa nyolong-nyolong merokok dengan cara nangkring di jendela. Dan saya tidak ada masalah dengan handuk yang tidak diganti karena saya mendapat jatah tiga. Mubazir sebenarnya. Karena saya toch hanya sendiri dan sudah memilih untuk menghabiskan waktu di luar kamar. Mana mungkin saya nangkring seharian di jendela, bisa-bisa disangka mau bunuh diri nanti. Maka saya menawari Aksan dan Titi yang akan menyusul tanggal 12 April untuk berbagi kamar. Tapi mereka “belagu”. Katanya mereka mau bulan madu. “Ya terserah”, jawab saya. Dalam hati saya yakin, mereka tidak akan ada waktu. Andaikan ada waktu pun, saya seratus persen yakin kondisi kamarnya tidak akan mendukung hasrat mereka itu.

Setelah selesai check in, saya berniat berangkat ke sekretariat dengan taksi. Di Lobi saya bertemu dengan Gotot Prakoso sutradara film Kantata Takwa yang sedang menunggu jemputan menuju Bandara untuk pulang ke Jakarta. Kami sempat ngobrol sebentar sambil minum bir sebelum jemputan tiba. Lalu saya nebeng ke sekretariat. Dalam perjalanan supirnya bertanya, “Kamu siapa? Artis?”. Saya jawab, “I’m a whore for SIFF”. Mas Gotot pun tersenyum dikulum:).

Sampai di sekretariat, saya bertemu Lalu yang sedang mencari film-film kandidat Jiffest. Sementara yang saya cari, Phillip Cheah (direktur siff), tidak ada. Jadi saya segera menghabiskan satu hari itu untuk menunaikan tugas syoping bagi anak-anak saya

Pilihan pertama saya adalah Science Center bagi si bungsu Bidari yang amat menyukai segala hal yang berhubungan dengan sains. Betapa puasnya saya di sana memilih mainan-mainan yang tidak membuat anak-anak sekadar konsumtif dan “bodoh”. Setelah puas belanja untuk si bungsu, giliran untuk si sulung dan pilihan saya tentu saja adalah Bugis Market. Selain Bugis Market, biasanya pilihan belanja saya untuk ABG adalah Far East di Orchard Road. Selain harganya terjangkau, shopping center itu terkenal dengan koleksi harajuku yang lumayan lengkap. Tapi karena fokus pesanan Banyu adalah sepatu, saya memilih berangkat ke Bugis Street di mana ada toko langganan yang kerap memberi saya diskon cukup besar. Di penghujung kegiatan syoping, masuk satu pesan di ponsel saya dari Nicholas Saputra yang menjadi salah satu juri SIFF, mengabari kalau malam nanti ada party di Ministry of Sound, Clark Quay. Saya tanya, di mana posisi dia saat itu? Dijawab, masih di hotel. Saya bilang, saya sebentar lagi kelar belanja dan akan langsung meluncur ke hotel. Kalau saya sudah mau berangkat, saya kabari.

Maka meluncurlah saya ke hotel. Ngepak barang-barang belanjaan, mandi, dan sms Phillip menanyakan jam berapa ia datang ke party. Saya jengah di tempat yang saya tidak kenal betul, diskotik pula. Sudah cukup lama saya merasa terlalu tua untuk clubbing, dan saya tahu persis pastilah Nico tidak bisa menemani saya semalaman suntuk karena he’s on duty. Celakanya, Phillip menjawab kalau ia tidak bisa ke party. Jadi saya sms Nico, mengabari kalau saya sudah siap dan akan menunggu di lobi. Sebelum Nico sempat membalas, saya baru kepikiran untuk kirim sms lagi, “lu di hotel Hang out kan?”. Dan dibalas Nico, “Gue di Ritz Carlton, Buq” Duar! Tolol banget saya berpikir dia satu hotel dengan saya. Pastilah Star TV memberinya akomodasi hotel bintang lima. Mulailah saya keringat dingin membayangkan datang sendirian ke tempat yang tak saya kenal itu. Tapi mulut saya yang sudah terasa amat masam membuat saya memutuskan untuk segera memesan taksi demi asupan nikotin!

Untung, taksi saya tiba di Clark Quay bersamaan dengan taksi yang ditumpangi Nico. Dua kali untung, ternyata masuk ke M.O.S harus pakai undangan. Jadi atas jasa Nicolah saya bisa masuk. Di dalam, saya bertemu dengan Azarrudin, editor dari Malaysia, mewakili filmnya berjudul Breathing In Mud yang juga masuk dalam kompetisi Silver Screen Award. Kami pernah sama-sama menjadi juri untuk Jogja Netpac. Ada Lalu, dan Phillip! Ternyata Phillip berubah pikiran dan menyempatkan datang. Senangnya ada yang saya kenal. Lebih menyenangkan lagi ada free flow bir dan cocktail, yang saya dapat berkat masuk bersama Nico! Hidup Nico! Tapi ya ampun, di dalam club tidak boleh merokok! Ada smoking area yang nyaman, memang. Tapi tetaplah tidak nyaman harus mondar-mandir terus-menerus. Sementara di tempat duduk saya cuma bisa bengong menatap lantai dansa kosong. Dan tiba-tiba tangan saya ditarik Phillip, “We have to dance, or else nobody will!”. Halah, nenek-nenek diajak dansa, udah mati langkah! Tapi begitu melihat sekeliling, terlihat para panitia tengah mati-matian mengajak semua yang ada di sana ajojing. Banyak yang tidak mau. Bahkan Azhar sampai benar-benar bertahan memegangi kaki meja saking tidak maunya ditarik dansa. Ya, terpaksalah saya turun karena iba melihat perjuangan panitia dan juga supaya Azhar terlepas dari “mara bahaya” yang sedang merundungnya. Saya pasang gaya sok cuek, padahal malu (percaya gak?!).

Setelah sudah cukup banyak orang yang menyusul ke lantai dansa, saya berhenti. Saat itu panitia mulai menawari kami untuk lanjut ke karaoke. No way! Betapa tersiksanya terperangkap di dalam kamar karaoke tanpa merokok! Saya bilang, saya mau cari tempat minum yang bisa merokok. Akhirnya group terpecah jadi dua. Sebagian pergi ke karaoke, sebagian ikut saya mencari bar. Sekitar sepuluh orang ikut saya menyusuri bar-bar di pinggir danau. Ada Azarrudin, John Tores dari Phillipina, sutradara Film Pendek dari Jogja (nuwun sewu, lali jenenge mas, wis mendem:), dan selebihnya panitia dan volunteer untuk SIFF.

Malam itu kami minum-minum dan ngobrol-ngobrol ringan. John Torres mengundang saya untuk datang ke pemutaran filmnya esok hari, dan saya mengiyakan. Perempuan-perempuan terlihat lengket dengan John yang berparas mirip Indian dengan rambut panjang tergerai. Saya bilang ke Azhar yang dulunya gondrong, “Mestinya kamu jangan potong rambut biar laku kayak si John.” Azhar cuma nyengir. Dalam hati saya juga nyengir mengingat rambut gondrong teman saya Totot, kira-kira dia akan dikerubungi cewek-cewek juga gak ya kalau ada di sana?:)

Ketika malam makin larut, sejumlah bulek-bulek mulai plirak-plirik ke arah kami yang kebanyakan perempuan. Laki-lakinya cuma Azhar dan John. Saya mengacungkan jari tengah saya. Melihat itu John tersenyum dan mendekati saya. Ia cerita kalau film pertamanya keluar sebagai pemenang di SIFF. Filmnya bercerita tentang cinta seorang laki-laki terhadap perempuan yang ternyata adalah teroris. Yang ingin John sampaikan adalah, how we terrorize the people we love. Hmmm…imaji seseorang terlintas di dalam kepala saya yang terasa ringan akibat tequila. Tapi segera hilang ketika John meneruskan cerita. Katanya, kala itu hampir tiga perempat penonton keluar ketika film berlangsung! Mendengar itu saya benar-benar kaget. Saya pikir, penonton yang datang ke Festival Film tentulah penonton yang sudah “siap” kalau film yang akan mereka tonton bukanlah film “konvensional” dan attitude menontonnya pun pasti berbeda dengan “penonton umum”. Kalau nyatanya tidak, tentu saja saya jadi ngeri, apa yang terjadi pada pemutaran film saya nanti ya kira-kira? Seperti mengerti kepanikan saya, John membesarkan hati saya. Tidak penting berapa jumlah penonton yang datang maupun yang tinggal di tempat duduknya. Yang penting adalah jujur pada karya-karya kita. Saya setuju. Tapi tetap saja, alangkah lebih menyenangkan jika jujur dan tetap diminati. Apalagi kalau bisa menghasilkan untung. John dan Azhar yang juga ikut nimbrung perbincangan, sama-sama tertawa. “Kita lihat saja tanggal 13!”, begitu kata mereka saat kami melangkah keluar dari Clark Quay. Ya, saya ingin segera tahu seperti apa nasib “anak” saya tanggal 13 nanti.


10 Comments

Add your comment

  1. antok
    May 12 at 11:39

    saya juga stres kalo ketemu tulisan “NO SMOKING”.
    lebih stres lg kalo pelayan bilang “NO COFFE”. gak makan, bolehlah. kalo gak merokok dan ngopi, waduh bisa mati!

  2. aan p
    May 13 at 17:50

    Hi, mbak Djenar

    Saya mau tanya apakah mbak Djenar pernah ke Garut belum ?

  3. totot
    May 18 at 10:08

    John Torres itu yang filmnya gak menang ya? Kok cuma sedikit cerita soal si gondrong itu? Huuuu, penonton kecewa…. :-P

  4. totot
    May 18 at 10:19

    Nyet, minta tolong Eka nambahin image padding 3-5mm gitu, biar foto-fotonya gak nempel sama teks. Halo Eka?

  5. ekakurniawan
    May 19 at 10:26

    beres, pakde! :)

  6. totot
    May 19 at 11:39

    Mantap kali si Eka ini… :) Cakep dah!

  7. djenar
    May 20 at 07:57

    hush! kepo lu nyet!:)

  8. nyot
    Jun 01 at 11:26

    film john torres ga bisa menang. bukan diseksi kompetisi.

  9. djenar
    Jun 01 at 12:27

    Ya, tahun ini memang film John Torres tidak masuk kompetisi, hanya masuk official selection. Tapi film pertamanya pernah menang di Singapore International Film Festival, tahunnya saya gak pasti. Nanti dicek. Waktu itu udah terlalu mabuk untuk ingat semua yang diceritain John mengenai film pertamanya.

  10. inu382
    Jun 02 at 14:21

    di dalam club nya gak boleh ngokar?? 0.o’a

    weleh2,, kyk apa ya rasa nya haha

    haduh2 abis baca ini jadi inget bir bintang di kamar tinggal 2 kaleng… T_T hiks

Post a comment