Photos Gallery

yiyi, mommy, nyunyu rodma ucit's bday philo art space berenang dma,djaduk,tegoeh anjas,dma maya,virny,dma eka di "kafe betawi":) djenar-yiyi Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 7 Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 6
View more photos >
 

HARI KETIGA DI NEGERI SINGA

Jun 08

Semalaman saya sulit tidur. Hari ini adalah hari yang amat istimewa: pemutaran film “Mereka Bilang, Saya Monyet!”, pemutaran film “Kerikil-Kerikil Tajam” dan “Si Mamat”, dan tentu saja Awarding Night. Terus terang, saya tidak berharap menang. Saya lebih takut film MBSM tidak disukai orang. Juga takut tidak banyak penonton yang datang. Padahal pemutaran filmnya di Museum Nasional. Menurut Phillip, kapasitas tempat itu mampu menampung sekirang 400 orang. Pasti akan sangat terlihat kosong jika hanya sedikit yang datang.

But the show must go on. Jam 7 saya berangkat mandi, lalu turun ke coffee shop untuk sarapan pagi. Yang penting perut harus sedikit terisi karena saya tahu akan banyak mengosumsi alkohol hari ini. Tak lama Akang dan Titi menyusul. Seperti biasa, saya dan Titi memakai baju yang hampir mirip, atasan batik dan celana pendek. Untung warna dan modelnya beda. Kami sering sekali memakai pakaian yang sama walau tidak janjian. Kami pernah bertemu ketika sama-sama memakai tank top hitam, sandal hitam, dan celana batik dengan motif dan model yang benar-benar sama! Di lokasi syuting pun saya dan Titi pernah bersamaan memakai atasan ungu (dengan model sama) dan legging hitam. Tak ayal para kru sering salah memanggil saya jadi Titi, dan Titi jadi saya, Kebetulan yang benar-benar membingungkan.

Setelah mobil jemputan datang, kami segera meluncur ke Munas dan menyempatkan mampir di 7 Eleven untuk membeli beberapa kaleng bir. Yang di mobil teriak, “Nai, ini masih jam 9 pagi!”.

Di Munas, kami sempat main-main instalasi yang memang diperuntukkan bagi pendatang untuk berkreasi. Setelah itu kami langsung menuju ke bawah. Ternyata sudah ada beberapa orang yang datang. Saya kabur keluar untuk merokok, minum bir, sambil mengamati berapa jumlah yang datang lewat pintu kaca besar. Dan tamu-tamu pun berdatangan! Saya tidak bisa memercayai penglihatan saya ketika satu persatu tubuh tamu muncul di eskalator yang bergerak turun. Akang, Titi, Phillip, John, Azhar, kadang menemani saya yang sedang nervous. Saya juga sempat bilang ke Phillip, selain tidak mau ada sesi tanya jawab, saya tidak mau maju ke depan untuk diperkenalkan. Phillip manggut-manggut. Nyatanya sebelum pertunjukan dimulai, ia tetap memanggil saya ke depan. Dia bilang ke penonton, “Karena Djenar pemalu, kasih applause hangat dulu biar dia gak malu untuk maju!” Huh!

Saya terpaksa maju memperkenalkan diri di depan sekitar 250an penonton (menurut kalukulasi Phillip berdasarkan kapasitas ruangan), menyambut mereka, berterima kasih, dan juga mengajak Akang dan Titi untuk maju ke depan. Ketika memperkenalkan Titi Sjuman sebagai pemeran utama, sekaligus music director bersama kakak saya dan suaminya (atau saya bisa bilang, suami kami-saya mencandai) Aksan Sjuman), saya tidak pernah menyangka penonton menganggap itu serius. Menurut Titi, selepas film diputar ada yang menanyakan apakah benar kami punya satu suami? Mungkin bulek-bulek itu sudah mafhum kalau di Indonesia banyak yang berpoligami.

Lampu dipadamkan. Saya tidak sanggup duduk di kursi penonton. Seperti waktu acara Premierre MBSM di Blitz, saya memilih duduk di samping dekat pintu keluar. Sepanjang pertunjukan saya membuka telinga lebar-lebar dan mengusir siapapun yang berdiri dekat-dekat termasuk Phillip. Ternyata penonton-penonton di sana lebih ekspresif. Kalau ada adegan seram mereka bersuara, Hiiiiii,,,, Kalau ada adegan lucu mereka terbahak-bahak. Ada beberapa adegan yang tidak menimbulkan tawa penonton di Jakarta, tapi di sana mereka tertawa. Juga desahan-desahan semisal Aaaaah…atau Hiiiiii…tadi. Di tengah pertunjukan, ada yang memberitahu kalau saya kedatangan tamu. Ternyata Pak Hatoek. Beliau tidak bisa nonton karena harus kembali ke Jakarta. Beliau datang hanya untuk memberi support dan mengantar makanan. Aduh Pak Hatoek, terima kasih banyak. Tapi saya benar-benar tidak bisa makan. Masih jantungan!

Pada akhirnya saya cukup lega juga karena tidak ada penonton yang keluar sampai film berakhir. Namun..tidak juga ada yang tepuk tangan! Saya kembali panik dan langsung ngeloyor keluar ruangan. Tapi baru saja sampai di pintu, terdengarlah suara tepuk tangan. Otomatis saya berbalik badan. Terlihat di layar kalau nama saya sebagai sutradara baru keluar (saya memang tidak mencantumkan nama saya sebagai sutradara ketika film berakhir, melainkan nama-nama pemeran terlebih dulu). Kini saya baru tahu, ternyata bertepuk tangan juga pakai aturan toch? Tapi tangan saya sudah keburu memutar gagang pintu, sehingga saya tetap keluar ruangan dan lagi-lagi kabur merokok dan minum bir di luar.

Yang pertama kali tahu tempat “mangkal” saya adalah John dan Azhar. Mereka menyambangi sambil memberi selamat. Saya tidak berani menatap mata mereka. Mata tidak akan pernah bisa berbohong. Dan saya terlalu takut mengetahui kalau kata selamat mereka hanyalah basa basi saja. Lalu Phillip dan Mas Arya Gunawan memberi selamat. Menurut mereka sebagai film pertama dan sebagai sutradara yang belum dikenal, didatangi penonton 250 orang sangatlah bagus. Jadi pertunjukan tadi bisa dibilang cukup sukses. Amien! Setelah itu wartawan Jerman mendatangi saya. Ia tidak mengira kalau filmnya “well made” , dalam arti tidak “underground” mengingat budgetnya terbilang minim. Pendapat yang sama dilontarkan beberapa penonton, juga Dustin Nguyen sebagai salah satu juri SIFF yang amat mengagumi akting Titi. Saya memang membuat film sesuai kemauan saya, idealis, istilah orang. Tapi saya juga tetap berpikir masalah komersial. Belum waktunya bagi saya membuat film yang benar-benar eksperimental. Industri Perfilman Indonesia belum bisa mengakomodirnya. Kalau dengan kondisi seperti ini saja MBSM hanya dapat menarik 4000an penonton, apalagi kalau saya bikin yang benar-benar “gila”? Pasti tidak ada bioskop yang mau memutar. Jadi kalaupun proyek film eksperimental saya selanjutnya akan saya buat, saya sudah harus siap kalau film itu tidak untuk konsumsi Indonesia. Saya memang sudah berpikir hanya akan memutarnya di festival-festival luar saja. Dan tentu saja, siap rugi!

Waktu pun berjalan. Akhirnya Titi keluar sambil marah-marah. “Curang kamu kabur! Aku yang jadinya dicegat penonton dan harus jawab pertanyaan”. Lucu sekali mimik mukanya, meski tetap kelihatan cantik. John dan Azhar memisahkan diri untuk mencari makanan. Sementara saya, Akang, Titi, Phillip, dan wartawan dari Jerman berangkat naik bis menuju Lido Classic, tempat film “Kerikil-Kerikil Tajam” akan diputar.

***

To be continued:)

40 Comments

Add your comment

  1. inu382
    Jun 09 at 10:52

    wew,,

    smakin menarik hehehe

    ayo2 mbak,, tulis lagi lanjutan cerita jalan2nya hehe

  2. bestra
    Jun 13 at 00:11

    uhm… emang benran yah mba pemalu.. masa sie??

    wah grogi bgt yah mba.. tp sukses khan (katanya..)

    sukses wat projek selanjutny yah n beredar terus di pesbuk..hehehe…

  3. tachan
    Jun 14 at 23:46

    mba djenar.. saya baru baca buku2nya.. n bagus bgt.. saya suka semuanya.. mantap!

    saya mao tanya, gimana cara dapetin cerpen mba yang ‘menyusu ayah’ itu? saya penasaran bgt pengen baca..

    thx u.. :)

  4. djenar
    Jun 15 at 02:21

    thanks tachan, menyusu ayah kan ada di buku jangan main-main dengan kelaminmu:) cheers

  5. stephanie martha
    Jun 17 at 16:45

    nyesel banget..huhuhu…ga ntn…gatau malah sama skali kalo ada pemutaran filmnya d s’pore..huhuhuhuhuh T.T

    tiap kali balik jkt, pasti hunting buku² mbak djaenar..tapiii..susahnya minta ampun..ihiksss T.T

    tolong mbak..sarannya..biar bisa langsung borong skalian buku²nya…cuappeeee aku nyarinyaaaaa…:D

  6. monsterikan
    Jun 18 at 08:52

    suka jalan2 yah. seru2. mampir2 ke blog saya :D ada novelnya loh .. promosi.com

  7. eka
    Jun 18 at 20:03

    Mba Nai.. msh inget sm aku ga? Eka yg ketemuan di citos?? ngarep.com :)

    Aku nton MBSM hari terakhir loh mba.. tp g sia2.. 4 thumbs up.. suka bgt..

    Kpn novel ranjangnya keluar mba? aku diundang lagi ga launchingnya?? hihihihi.. soale msh ada 3 buku yg blm dikau tandatangani.. ^_^

    Pokoknya alwayz b passionate thinker ya mba..

  8. wiLa
    Jun 20 at 13:21

    GOOD JOB…

  9. sazi
    Jun 20 at 20:58

    I’ve read all ur books, & semuanya sy beli. hampir semua ceritanya ttg perempuan yg tertindas ya, g pgn bikin tema lain? ato memang ‘mengkhususkan’ diri ke tema2 tsb?
    btw sy suka filmnya mbsm, walo endingnya rada bingung2 dikit, hehe..

  10. Riri Audiya
    Jun 21 at 15:45

    salam kenal mba.
    asik yah cerita jalan2nya..

  11. hujan batu
    Jun 22 at 19:53

    mbak, apa g ada ide selain ngentot?

  12. djenar
    Jun 22 at 23:05

    hujan batu, Is there anything new under the sun?:p
    eka, ya inget laah yauuuw…thanks udah noton mbsm.
    semuanya, salam kenal juga. thanks udah mampir ke sini.

  13. langitjiwa
    Jun 28 at 12:42

    salam kenal,mbak.

  14. Panda
    Jun 30 at 17:13

    di sini ternyata penulis hebat ini. salam kenal. dari seorang penggemarmu yang jauh, yang sekaligus membencimu.

  15. dewifebsuri
    Jul 07 at 12:35

    salam kenal mbak djenar

  16. resty
    Jul 15 at 15:21

    wah..selamat ya mbak!!filmnya banyak disuai orang!!
    akhirnya, keetakutannya terbayar dengan kebahagiaan dunk!
    cheers!

  17. dobleh yang malang
    Jul 15 at 20:43

    salam hangat atas ide filmnya. aku suka bngtz. salam kenal . and mau kan memberi command tuk kesederhanaan tulisan2ku diblogku.maukan mba?

  18. arric
    Jul 27 at 21:31

    wahhhh…
    aku justru menunggu ada pelem yang bener2 idealis…
    aku pengen bgt nonton pelem yang beda, kalau istilah musiknya tuh… yang indie gitu…
    semangat mb’ djenar!

  19. vin
    Aug 04 at 15:50

    jadi pengen nonton filmnya nih mbak :)

  20. siLLy
    Aug 05 at 17:50

    mbak bukunya keren bgt.
    mbak berani bwat nulis seblak2an itu.
    mbak mau ga kalu ngoment cerpenku karena tlsn mbak bener2 jadi inspirasiku

  21. Gari
    Aug 06 at 21:04

    nice post!!! :) Jadi pengen travelling ke sana nehh … Kapan ya bisa ke sana? *pura2 mikir*

  22. mew
    Aug 08 at 12:20

    congratulation.. :D

  23. Mea maxima culpa
    Aug 19 at 06:48

    Hmm waktu denger novel monyet akan dibikin film, pnasaran dan seneng gimana sih imaji saya setelah baca novelnya dengan yg mbak buat akan bersaing.
    Setelah lihat filmnya walau dengan donlod di rs :-D, kok beda banget ma judul cerpen monyetnya..
    Ga seru nih, ternyata critanya soal flash back trauma masa kecil
    dari segi crita ma gaya sinema seperti melihat sinetron lepas, tapi lumayanlah daripada melihat film setan

    saya tunggu novel nayla dibikin film, mari kita bersaing imaji lagi he5

  24. koko
    Aug 21 at 10:49

    mbak kirim yang komplit dong ke email gue.

  25. mascayo
    Aug 21 at 21:23

    selamat deh mba
    eh..dah telat ya? :)

  26. abonk
    Aug 24 at 15:57

    gue ga tau mesti nulis apa *sumpah gw ga PD nulis pesen sama penulis seterkenal mbak hihihi*
    gue cuman mau ngucapin selamat ya mbak semoga panjang umur *loh emang ada yg ulang taun ya???*
    tapi asli film mbak seru kok walaupun gue nontonnya dari pinjem di video izzy
    Kpn2 ke uin jkt lagi ya…tapi jangan minta beliin bir kasihan panitianya hahahahaha

  27. nastiti
    Sep 04 at 14:25

    bisa minta info, bagaimana cara mendapatkan film dalam bentuk VCD MBSM?
    tolong kontak saya ya via
    email ya!

  28. sam
    Sep 04 at 15:10

    Pe De aja, Djen. Garapan MBSM udah oke bgt. Siap-siap aja terima koment dari penonton yang rada kritis, ato yang sok kritis. he3X

  29. agus
    Sep 04 at 15:43

    pengen gratisan berupa novel e-booknya mbak

  30. agus
    Sep 04 at 15:44

    pengen gratisan berupa novel e-booknya mbak
    bolehkan&&&&&&

  31. Dedew aka Dewi Rieka
    Sep 08 at 21:49

    Waks..kebayang deh mbak,tegang en dag dig dug nya nunggu reaksi penonton,apakah karya kita dapat pujian ato sambitan piring hehe..selamat mbak,ayo bikin buku lagi dung..

  32. firda
    Sep 19 at 08:20

    ayo mbak djenar..trus berkreasi. Bikin buku yang difilmkan, dan bikin kumpulan cerpen lagi. Ditunggu loh.

  33. amy batari
    Oct 07 at 11:18

    hmm,…fans bnget ma mba djenar,,mbsm adl yg prtma dan bkin dahiku mngernyit trs mmbacanya,tp bkin sy “horny” alias falling in love….sukses sllu bwt mba,,,kpn NAYLA dilayar lebarkan spt MBSM?salam syg bwt nayla…tp kdng sy kecewa klo karya mba telat muncul di “kota daeng” / makassar,,,,,sukses….sukses…sukses….jng kbnykn mnm bir,klo cpet “death”,gmn dunk……. sy khilangan NAYLA……nda akan ada yg spt mba….

  34. kuli tersesat
    Oct 07 at 20:43

    salam… saya memebaca bebberapa kumpulan cerpen anda, dan menonton film anda. untuk novel saya belum baca. ada yang menarik, ada juga kejutan tetapi ada juga hal-hal yang bisa, saya rasa.
    hm.. saya gitu ajalah ngomongnya. hehhe

  35. goenoen
    Oct 21 at 21:56

    mbak Djenar…kok blognya ditinggal lama sekali. mana nih ’sambungannya…’.
    saya selalu baca blog ini, tapi nggak pernah meninggalkan ‘jejak’.
    mungkin sekarang saatnya saya bilang ‘halo…’

  36. fien
    Oct 24 at 07:26

    luv u somad djenaaaaaar…

  37. timur matahari
    Oct 25 at 05:51

    salam kenal
    awak bertandang dari medan
    di pondok birahi memuntah kata ada jamuan sederhana, secangkir kopi pahit dan ubi (awas darah tinggi) kalau lah sempat datanglah..
    salam lagi

  38. Risti
    Oct 27 at 16:54

    Selamat sore,.
    Mbak djenar saya Risti dari BEM FakuLtas EkoLogi Manusia IPB,kami bermaksud mengundang mbak Djenar utk menjadi pembicara dlm seminar jurnalistik yg akan d lakukan tgl 16nov. Mohon dikirim prosedur utk dpt mengundang mbak dlm acara kami lewat email saya.
    Terima kasih Mbak&saya tunggu jwbn dr mbak.

  39. Kwek Lie Na
    Oct 29 at 19:20

    Salam kenal..

    saya orang indonesa yang sekarang berada di taiwan…

    Wah saya juga kebetulan suka jalan-jalan,menikmati segala yang ada didunia…pemandangan…hasil teknologi dll

    Sukses ya!

  40. madink
    Nov 11 at 00:22

    kalau underground, filmnya gak masuk bioskop dunk, gimana caranya ya mbak biar saya bisa nonton? Tulung dunk…..

Post a comment