Photos Gallery

yiyi, mommy, nyunyu rodma ucit's bday philo art space berenang dma,djaduk,tegoeh anjas,dma maya,virny,dma eka di "kafe betawi":) djenar-yiyi Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 7 Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 6
View more photos >
 

HARI KEDUA DI NEGERI SINGA

May 20

I

Saya terbangun karena suara telepon. Saya pikir Phillip, yang memang berjanji akan menelepon kalau ia sudah tiba di hotel untuk meeting dengan Shanty Harmain jam delapan pagi. Tanpa melihat jam saya langsung menjawab telepon, “Morning, Phillip.” Ternyata bukan Phillip. Dan jam baru menunjuk ke pukul lima dini hari (siapa dan pembicaraan apa yang terjadi di telepon tidak akan saya tulis di sini, dong..enak aje!:p). Yang jelas saya jadi tidak bisa tidur lagi. Untungnya kepala saya tidak terasa berat akibat banyak alkohol malam tadi. Bir dan Tequila, entah kenapa adalah kombinasi yang tidak akan pernah membuat saya hang over!

Jam 7 saya sms Phillip mengabari kalau saya sudah stand by di bawah. Kaget juga dia mengetahui saya bisa bangun pagi. Jam 8 tepat Phillip tiba, sementara saya sudah menghabiskan kopi ketiga. Tak berapa lama Shanty tiba di hotel. Saya membiarkan mereka berdua meeting dan pergi ke teras depan untuk merokok. Sebelum akhirnya Shanty pamit pergi ke bandara dan Phillip ke Museum Nasional, saya sempat menyampaikan ke Shanty betapa kagumnya saya pada film The Photograph dan memberikan ia DVD MBSM yang pembuatannya sengaja dikebut Ronny P. Tjandra dari Jive Collection, agar saya bisa membawanya ke Singapura. Thank You so Much, Ron.

Saya pun balik ke kamar. Rencananya mau mandi dan berangkat ke Museum Nasional untuk nonton film-film Vietnam. Nyatanya hujan besar. Kilat dan suara petir tidak berhenti terdengar dari luar. Saya terperangkap dalam kamar. Akhirnya hujan dan kilat baru reda ketika hari sudah amat siang. Menurut taksi yang membawa saya ke Koffi Tiam tak jauh dari Museum Nasional untuk makan siang dengan Phillip, sempat terjadi macet total di beberapa ruas jalan dan beberapa pohon tumbang.

Setelah makan siang, kami ke Museum Nasional. Sebelumnya mampir di 7 Eleven. Phillip yang tahu kalau saya akan membeli bir mengingatkan, “Masih terlalu pagi untuk minum bir.” Ketika saya keluar saya bilang, “Saya cuma beli dua kaleng bir, yang lainnya Vodka”:).

Sesampainya kami di Munas, acara sudah lama dimulai, dan film sudah hampir selesai diputar. Saya diperkenalkan Phillip ke beberapa anak-anak muda yang semula saya pikir panitia. Mereka sedang sibuk mengemas beberapa produk dari sponsor untuk dibagikan. Saya pun ikut membantu mereka. Sama-sama duduk di lantai mengemas produk-produk yang jumlahnya ratusan. Dan yang membuat saya terkesan adalah ketika mengetahui bahwa mereka semua adalah sutradara maupun produser film. Sayang, saya amat lemah dalam hal menghafal nama dan wajah. Jadi saya tidak bisa menyebut nama-nama mereka. Yang saya tahu, beberapa dari mereka karyanya sudah sering masuk di pelbagai Festival Internasional. Sungguh, saya terharu sekaligus kagum melihat relasi antar sineas di sana. Tidak terasa adanya persaingan. Tidak terlihat adanya siapa yang merasa lebih besar. Dan di luar masalah kebersamaan yang amat erat maupun hasrat saling mendukung itu, mereka terlihat amat “membumi”. Tidak ada kesan, “Ini loh gue film maker yang udah kenyang masuk festival.” Hal ini mengingatkan saya pada para sineas Malaysia. Keharmonisan itu juga terjadi antara mereka. Maka jangan heran jika kita melihat sineas yang satu berpartisipasi di karya sineas yang lain dalam film-film Malaysia. Bilakah hal tersebut bisa atau mungkin juga sudah terjadi di Indonesia? Saya tidak tahu. Harap maklum, saya cuma anak baru.

Di sela-sela aktivitas membungkus dan berpikir, ponsel saya berbunyi. Satu pesan SMS masuk dari Titi. Mereka sudah mendarat dan check in. Selanjutnya mereka mau pergi ke Sex Shop. Saya pun menganjurkan untuk ketemuan di depan Lucky Plaza. Setelah tuntas urusan bingkis membingkis produk sponsor itu, saya pamit untuk menyusul Aksan dan Titi yang kelihatannya akan banyak butuh bantuan dari expertnya:

***

II

Saya yang sedang menunggu sambil merokok di depan Lucky Plaza dikejutkan oleh Titi dari belakang. “Ih kamu kayak perek lagi nunggu pesanan”, ledeknya, “Emang perek!”, balas saya. Di belakang Titi, Aksan yang kerap saya panggil dengan sebutan Akang, cuma mesem-mesem. Ya sudah, saya langsung mengajak mereka masuk Sex Shop. Tapi sebelum masuk, Titi malak saya, “Beliin dong, aku kan belum dikasih hadiah dari kamu waktu menang IMA Award. Boti aja hadiahin aku kamera.” Huh!

Di dalam Akang dan Titi langsung menuju tempat kondom. segala model yang unik dengan kemasan lucu tersedia, cocok untuk oleh-oleh. Lantas Titi mulai ingin lihat-lihat yang lain. Sementara Akang mulai pusing dan meninggalkan kami berdua di dalam hingga terlihat seperti pasangan lesbian. Pilihan Titi sebuah vibrator. Saya sarankan beli dildo dengan clit teaser saja daripada sekadar vibrator. “Terserah ah…aku gak ngerti! Lagian juga terserah kamu yang mau kasih hadiah”, kata Titi. Cukup lama kami mencari yang cocok. Sampai akhirnya sampai di satu pilihan dildo berharga lebih dari satu juta rupiah. “Brengsek kamu! Sama juga bohong menang taruhan kemarin. Bukannya untung malahan buntung!” gerutu saya sambil membayar. Kami memang taruhan waktu IMA Award. Kalau Titi menang, ia harus membayar saya satu juta. Sebaliknya, jika ia kalah, saya yang membayarnya. Waktu itu Titi memang tidak pernah yakin jika saya mengatakan aktingnya amat memuaskan. Jika ada yang mengkritiknya di media pun, saya selalu meyakinkan, tidak ada satu aktor pun dalam film saya yang kurang satu persen pun dalam menghayati perannya. Kalau sampai dilihat tidak pas, bukan salah mereka. Tapi saya. Cuma Titi tetap saja tidak yakin. Maka menanglah saya taruhan. Anyway, mendengar saya ngedumel, Titi tersenyum lebar, mengucapkan terima kasih sambil mencium saya. Hmmm…pasti kami benar-benar terlihat seperti pasangan lesbian sekarang:).

Selanjutnya mereka mengaku kelaparan. Tapi Titi mau belanja dulu karena sudah tidak ada kesempatan lain hari. Akang dan saya yang tidak suka syoping, menunggu Titi berbelanja sambil minum vodka di luar. Selalu menyenangkan ngobrol dengan Akang. Sayang, abang tertua kami, Yudi, dan Mama Fari sedang menyiapkan pertunjukan Balet di Jakarta. Jika ada mereka, pastilah akan lebih menyenangkan. Saat itu kami pun membahas ikhwal hubungan persaudaraan kami yang sering dilihat aneh oleh kebanyakan orang. Kami pernah diwawancara berdua, dan ditanya, “Bagaimana pertama kali tahu kalian bersaudara?”. Hah? saat itu kami pun hanya bisa berpandang-pandangan sebelum akhirnya tawa kami meledak. Apa anehnya saudara lain bapak? Apa sulitnya mengenali? Apa bedanya dengan keluarga “biasa”? Kami tidak mengerti. Atau bisa jadi memang sulit bagi orang awam memahami. Halah, Sutralah!

Akhirnya batang hidung Titi muncul juga bersama panitia berwajah arab yang ingin ke Indonesia untuk menjajal jadi pemain sinetron:). “Laper!” kata Titi. Kami pun melaju ke Bugis Street. Saya pikir di sana Titi bisa belanja sekaligus berhenti makan di pasar. Tapi ternyata Bugis Market tidak cocok untuk Titi. Saya lupa, saya datang ke sana selalu untuk belanja buat anak-anak. Sekali lagi, saya tidak suka syoping buat diri sendiri. Dan waktu saya ajak makan di pasar, ternyata mereka juga mau alternatif lain. Lalu panitia membawa kami menyeberang ke Bugis Junction. Di lantai bawah ada Food Court. Tapi resto-restonya sama saja dengan di Jakarta. Akhirnya kami kembali naik ke lantai dasar dan menemukan satu resto cina.

Sambil menyantap makanan, Akang bertanya,”Jadi kemana kita habis ini?”. “Saya sendiri janji nonton filmnya John. Kalau kalian masih mau belanja, terserah”, jawab saya. Ternyata mereka sudah tidak mau belanja. Titi sudah puas dengan hasil belanja di Orchard Road. Akang sudah puas mendapat Giordano macam-macam warna, dengan harga lebih murah dari Jakarta. “Giordano itu simpel tapi tetap gaya karena ada brandnya. Biar seniman gak keliatan kere-kere banget geto loh..!”, candanya di sela-sela belanja. HAHAHAHA! saya tertawa keras. Semenjak kecil, Akang memang selalu bisa membuat suasana menjadi renyah dengan candanya. Ia suka meledeki nama saya dengan, Djenar Masak Ayu?:). Yudi yang tertua, yang paling serius. Sementara saya sendiri…mungkin di tengah-tengahnya. Antara serius dengan tidak terlalu serius, jadinya gila.

Akhirnya semua sepakat ikut nonton filmnya John. Maka meluncurlah kami di atas taksi, meninggalkan Bugis Street yang tidak pernah sepi.

***

III

Pukul 20.45 kami sampai di The Substation, di mana film John yang berjudul “Years When i Was A Child Outside” diputar jam 21.15. John terlihat sumringah, dan masih dengan gayanya yang kalem menyambut para tamu yang datang. Ia berterima-kasih atas kedatangan saya, dan tambah senang lagi melihat saya datang membawa Akang dan Titi - semua film maker memang sama, senang jika karyanya disaksikan. Ia pun berjanji akan datang ke pemutaran film MBSM dan film “Si Mamad” karya almarhum ayah saya besok dengan ekspresi riang.

The Substation terletak di kompleks gedung-gedung tua bernuansa kolonial. The Substation bukan bioskop, Ia adalah Contemporary Art Center pertama di Singapura. Tempat ini sering digunakan untuk acara diskusi seni, pameran, dan didirikan dengan misi memberi ruang pada seniman-seniman Singapura untuk bereksperimen atau berkarya. Maka tidaklah heran jika fasilitasnya tidak terlalu memadai untuk pemutaran film. Lebih cocok untuk pemutaran film “skala kecil” karena kapasitas ruangnya tidak terlalu besar. Selain dilengkapi layar dan panggung untuk pertunjukan, di tiap undak-undakan diletakkan kursi kayu memanjang tanpa senderan punggung dan jarak pemisah antara yang kiri dan yang kanan. Titik beratnya memang lebih kepada fungsi ketimbang kenyamanan. Namun kondisi demikian justru menciptakan atmosfir yang hangat dan tak berjarak antar pengunjung yang datang.

Karena kami masih punya waktu setengah jam, saya memutuskan untuk merokok dulu di luar. Azharrudin dan Phillip juga sedang ada di luar. Sambil merogoh tas untuk mengambil rokok, tangan saya sekaligus mencari-cari kacamata. Dan barulah saya sadar. Saya tidak membawa kacamata! Bagaimana saya bisa menonton film? Padahal mata saya minus 3.5 ditambah silinder 1.75. Sehari-hari memang saya tidak pernah memakai kacamata. Teman-teman dekat, pasti sudah sangat paham kalau saya rabun. Tapi yang tidak tahu, biasanya menyangka saya sombong karena tidak pernah menegur duluan, sering kali malah tidak menegur sama sekali karena saya memang benar-benar tidak bisa mengenali orang. Saya hanya memakai kacamata ketika menonton, menulis, atau kadang melukis. Alasan saya, hidup jauh lebih menyenangkan ketika semua terlihat samar. Tapi di depan orang biasanya saya menjawab, “Biar keliatan kece!”

Akhirnya tiba juga saat menonton pukul 21.15. Kami semua masuk. Mungkin, ada sekitar 50an orang yang datang. Ketika iklan-iklan mulai ditayangkan, saya benar-benar frustrasi. Tidak ada yang terlalu bisa saya lihat di layar yang tidak terlalu besar. Maka saya menyerahkan semuanya kepada indera pendengaran. Berharap, semoga filmnya berbahasa Inggris, bukan bahasa Tagalog, walaupun kemampuan bahasa inggris saya tidak terlalu memadai.

Ternyata filmnya campuran antara bahasa Inggris dan tagalog. Anehnya. walaupun tidak melihat dan tidak sepenuhnya mengerti, saya bisa menikmati suara film tersebut (membuat saya semakin kesal atas ketololan tidak membawa kacamata). Tentu saya tidak bisa memberi pendapat yang kritis bagi film John. Namun sejauh pendengaran saya, saya merasa film garapan John ini adalah ekperimentasi antara visual dan bunyi. Hampir seperti pencapaian bunyi dari puisi Sutardji Calzoum Bachri. Sarat akan narasi dari John yang terdengar amat seksi dan puitis, dipadu dengan musik yang amat minimalis. Kadang narasi antara bahasa tagalog dan bahasa inggris ditabrak sehingga mencapai bunyi yang terdengar amat personal. Lahir dari suara-suara hati yang terdalam dan….berani. Entah mengapa saya terkesan demikian selama 100 menit film itu diputar. Karenanya, saya begitu penasaran ingin membuktikan.

Di luar, saya memberi John selamat, tak ketinggalan memberi buku serta DVD MBSM. Saya berharap ia akan memberi saya copy filmnya yang tidak bisa saya benar-benar lihat tadi. John kesenangan dan mengaku sebenarnya ia ingin sekali mendapat buku “They Say I’m A Monkey”. Dia bilang, “Djenar biarpun kamu tidak kasih buku dan DVD ini, saya memang berniat akan memberi kamu copy film-film saya.” Gantian saya yang kesenangan karena John berjanji akan mengirim film “Years When i Was A Child Outside”, bahkan juga film pertamanya “Todo Todo Teros” yang menang NETPAC/FIPRESCI Award tahun 2006 di Singapore International Film Festival. Beberapa minggu lalu ia mengabari kalau filmnya akan segera sampai. Tapi tidak juga saya terima hingga sekarang. Sungguh, saya masih penasaran!

***

IV

Selepas menonton, saya, Akang, dan Titi, memutuskan untuk mengisi perut. John dan Azhar berjanji akan menyusul. Mereka, khususnya John harus menemani penggemar-pernggemarnya yang kebanyakan perempuan. Kami mencegat taksi dan menanyakan pada supir di mana tempat makan dan nongkrong yang enak. Supir taksi menganjurkan pergi ke Clark Quay (again?!). Tapi kami tidak tahu lagi mau kemana, maka bergeraklah kami ke Clark Quay (Oh No!).

Kami memilih makan di resto Italia. Saya vegetarian. Jadi kami memesan 1 Pizza berisikan keju Mozarella ukuran large untuk dimakan bertiga. Untuk minuman, saya memesan bir dan tequila. Titi memesan white wine. Akang, saya lupa pesanannya. Waktu saya akan mengabari Azhar di mana posisi kami, baru saya sadar, ternyata pulsa (sumbangan dari teman saya Totot) habis. Mau jalan membeli pulsa rasanya malas betul. Harus menyeberang jembatan terlebih dulu untuk sampai di Pertokoan. Saya bujuk Akang. Tapi ia enggan. Titi juga berusaha membujuk. Akhirnya Akang mengiyakan walaupun dengan hati masih enggan.

Setelah beberapa lama Akang kembali. Wajahnya kesal. “Nai kalo kasih uang banyakan dong. masak cuma 30 dollar! gak cukup!” Saya ketawa dan memberi Akang uang lebih. Saya memang tidak mau beli banyak-banyak, karena lusa sudah kembali ke Jakarta. Akang pun balik membeli pulsa dengan masih ngedumel. Saya tertawa geli sementara Titi tertawa penuh sayang.

Setelah Akang kembali membawa pulsa dan saya mengisikannya, ponsel saya menerima pesan sms dari Azhar. Posisi mereka sekarang ada di salah satu bar di daerah Boat Quay. Kami menuntaskan makan dan menyusul ke Boat Quay. Duh Gusti, ternyata Boat Quay letaknya lumayan jauh. Harus melintasi satu terowongan dan satu jembatan. Kami pun sempat nyasar. Tapi lumayan, kami jadi bisa berfoto dengan latar belakang lampu-lampu kota yang cantik.

Akhirnya berhasil juga mendapatkan bar yang kami cari, bertepatan dengan Azhar dan John yang hampir saja pergi. Tak banyak yang bisa saya bicarakan dengan John seputar filmnya. Bertanya pun saya tidak mau. Saya paling tidak suka diceritai sebelum menonton. Saya ingin mengalami dan merasakan pengalaman menonton itu hanya untuk diri saya sendiri, dengan pendapat saya sendiri. Bukankah itu tujuan kita menonton? Jadi, lagi-lagi mereka menyinggung masalah film saya yang akan diputar esoknya. Mereka bertanya bagaimana perasaan saya, dan kadang mencandai saya yang amat tidak suka ditanya seputar karya dengan, “Besok siap-siap ya kami tanya-tanya.” Saya bilang, “Tidak akan ada sesi tanya jawab setelah film diputar, karena saya, Akang, dan Titi harus segera mengejar pemutaran film Bung Sjuman, “Kerikil-kerikil Tajam.” Saya sangat tahu itu hanyalah alasan. Yang paling benar adalah, saya memang tidak mau ditanyai. Bagi saya, biarkan karya saya berbicara dan mewakili dirinya sendiri. Tapi pendapat ini kerap ditentang kebanyakan orang, juga beberapa sahabat. Saya tidak mendebat. Namun saya tetap punya pendirian sendiri dan belum merasa ingin berubah haluan.

Malam hanyut bersama waktu. Saya harus pulang karena mulai diserang kantuk. Seperti malam kemarin, saya meninggalkan Boat Quay dengan membawa mabuk. Juga pertanyaan yang sama, akan seperti apa nasib “anak” saya, tanggal 13 hari esok.

***

14 Comments

Add your comment

  1. ratihkumala
    May 29 at 15:43

    mom, yang hari ketiganya gimana? kok gak nyambung2 cerita di singapurnya?

  2. djenar
    May 29 at 15:45

    Hari keduanya juga belum selesai. Tapi males ah, gak ada yang komen!!!

  3. ratihkumala
    May 29 at 15:46

    yah….

  4. wijayanti
    May 30 at 21:58

    saya komen nih, Mbak.
    “ayo dilanjutkan…”
    Mbak Djenar, saya masih tergeli-geli dengan spontanitas anda menjawab lemparan tanya dari Irwan Ardian, “siapa artis Indonesia terkaya?”
    Dan semua panelis di episode itu, idem jawaban anda, apapun pertanyaannya.
    Asyik banget!

  5. djenar
    Jun 01 at 21:55

    hihi itu bukan spontanitas, tapi fakta:p

  6. john
    Jun 02 at 13:37

    hey djenar! i didn’t understand a word. but thanks for writing about the film. i miss all of you. i hope to see you guys around soon. :) translate this for me when we meet ok? ingat! salamat!

  7. djenar
    Jun 02 at 13:56

    Hi Pare’, it’s nice to hear from you. Yes I will definetely translate it to you, but you have to send me your movies 1st. Deal?! Mabuhai.

  8. inu382
    Jun 02 at 16:50

    foto yang di lorong baguss…

    hehehe

  9. ratihkumala
    Jun 04 at 10:48

    Nah…. sekarang nulis! nulis! nulis hari ketiganya! hayo…!

  10. mbenk
    Jun 19 at 11:40

    Mbak djenar, aku adalah pustakawan di surabaya,setelah melihat kumpulan cerpenmu di kantorku awalnya aku muales pol untuk membaca cerpen dan sebangsanya. setelah iseng aku buka yang menarik pertama kali adalah fotomu iku lho jan tenan-tenan eksotis.
    Iseng kedua aku liat daftar isi dan kutindak lanjuti untuk membaca karyamu seperti staccato, sms dll. benar-benar menarik tur enak diwoco.
    dan yang penting anda pembaharu dalam menyajikan tulisan , wis mbak tak tunggu lagi karyamu sing lebih gregetno ati, ok

  11. tanto
    Aug 08 at 17:13

    aku cuma mau komen satu deh, apa yang kamu kagumi dengan pria bugil yang kami saksikan dari bawah itu? kayaknya kamu serius sekali deh memperhatikannya, tapi aku gak bisa menabak apa yang kamu seriusi itu? salam dari borneo barat

  12. alexabimanyu
    Sep 17 at 15:17

    bir & tequila.. agree to that.. and never mix the country, drink mexican beer and mexican tequila..
    it’ll taste better..
    btw, you should go to Agave in Hong Kong.. they serve 128 different brands of tequila :)

  13. chindy tan
    Oct 07 at 23:10

    Mbak bisa minta bantuannya untuk memberi komentar tentang: Vegetarian, sebagai pilihan Universal. Selama ini masyarakat kita masih mengkotakkan vegetarian sebagai isme atau milik agama tertentu. Bagaimana menurut Mbak Djenar?
    Komentar panjenengan kalo tidak keberatan boleh saya usulkan untuk dimuat di majalah info vegetarian edisi 2 ngga ya?
    oy, situs organisasi kami http://www.ivs-online.org

    terima kasih banyak sebelumnya Mbak, maaf tidak nyambung dengan artikelnya. saya bingung mau tulis di mana karena tidak tahu alamat imel Mbak Djenar.

  14. uncu
    Oct 15 at 21:29

    Busyet deh,Djen!Extrovert bgt kl Djenar suka minum2 & hang over. Kl gw sih malu bgt m’p'tontonkan suatu yg menurut agama gw, Islam,dilarang. Alhamdulillah,sebadung2nya gw tp gak pernah nyoba alkohol,drugs,sex.Sp usia gw skr yg sdh kepala 3. Amit2 deh,jgn smp! Tuhan tolong jangan beri aku kebahagian dunia yg menghalangi aku m’dapatkan kebahagiaan akhirat.Berilah aku kebahagiaan yg berasal dari Engkau,bukan kebahagiaan yg setan hembuskan dalam hatiku.Amin.

Post a comment