Photos Gallery

yiyi, mommy, nyunyu rodma ucit's bday philo art space berenang dma,djaduk,tegoeh anjas,dma maya,virny,dma eka di "kafe betawi":) djenar-yiyi Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 7 Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 6
View more photos >
 

Posts from April, 2008

Buku Baru

Apr 19

“Money-pulator” adalah salah satu esei yang saya tulis di kolom Opposite, Majalah Matra, yang nantinya juga akan diterbitkan dalam buku kumpulan esei dengan judul “Mereka Bilang, Saya Perek! atau “Saya Ingin Jadi Pelacur”. Ada yang mau kasih masukan mana dari kedua judul tersebut yang lebih “menjual”? :) Thanks in advance.

MONEY-PULATOR

Apr 19

Tidak ada seorang pun yang tak suka uang. Saya, apalagi. Tapi yang namanya uang, tidak suka orang. Karena itu mustahil mengharapkan uang mengetuk pintu rumah dan langsung lompat ke tangan. Uang tahu kalau ia begitu dibutuhkan. Maunya dicari, tak mau begitu saja datang.

Celakanya, walaupun saya suka uang, saya tidak suka mencari uang. Mendengar kata “bekerja” rasanya malas betul! Cuma apa mau dikata, saya tidak seberuntung orang-orang yang kekayaannya tidak habis dimakan tujuh turunan. Satu turunan saja hidup saya pas-pasan. Jadi mau tak mau saya harus bekerja, walaupun sekali lagi, rasanya malas betul!
read all »

DVD Mereka Bilang, Saya Monyet! Dirilis

Apr 16

Sekarang film Mereka Bilang, Saya Monyet! sudah bisa ditonton dalam bentuk DVD.

Synopsis:

Adjeng adalah seorang penulis cerita anak-anak yang sedang memberontak pada hidup. Masa lalunya penuh pelecehan, baik secara verbal oleh ibunya, maupun secara seksual oleh pacar ibunya. Hal ini menjadikan Adjeng seolah berkarakter ganda. Sebagai anak yang manis di depan ibunya, namun sangat liar kala bersama teman-teman dan pacarnya.

Diangkat dari 2 cerpen Djenar Maesa Ayu : Lintah dan Melukis Jendela.

read all »

Demokratisasi Selera Monyet Djenar

Apr 16

Oleh Totot Indrarto

[...] Mulai 3 Januari lalu Blitz menayangkan film cerita digital Indonesia pertama. Yakni, film Mereka Bilang, Saya Monyet! (MBSM!) karya sutradara pendatang baru, Djenar Maesa Ayu, yang sebelumnya dikenal sebagai penulis cerpen dan novel. Diproduksi dengan biaya Rp 620 juta, film yang diangkat dari dua cerpen Djenar ini dalam banyak hal berbeda dengan film-film komersial yang dibuat untuk melayani selera penonton.

MBSM! menarik, meski masih banyak kelemahan teknis di sana-sini, karena Djenar sudah menunjukkan tiga hal penting yang sering diabaikan oleh kebanyakan pembuat film kita. Pertama, ia berhasil membuat cerita yang sederhana namun berisi. Membuat film sejatinya adalah berbagi gagasan, sesederhana apapun. Bisa pikiran, bisa perasaan. Artinya, bercerita bukanlah tujuan, melainkan sekadar cara.

Selengkapnya baca di pakde.com

Monyet Itu Baik-baik Saja

Apr 16

Oleh: Adi Wicaksono

Setelah dikenal sebagai penulis cerita pendek, kini Djenar Maesa Ayu muncul dengan film Mereka Bilang, Saya Monyet!

Bukan sebuah kebetulan jika dalam film debutnya ini, ia bercerita perihal kehidupan perempuan penulis pula. Tentu, Djenar tidak berkisah mengenai liku-liku karier kepenulisan, melainkan sejenis paradoks yang dialami oleh seorang perempuan muda kelas menengah kota Jakarta yang mengidap trauma dan disorientasi akut.

Dan sebagaimana lazimnya kisah semacam itu pagi-pagi kita bertemu dengan kisah gelap tokoh utamanya (Adjeng) di masa kanak-kanak akibat perceraian orangtuanya. Ia mengalami “kekerasan” dan pelecehan seksual. Ia terisolasi dari lingkungannya, lalu tumbuh menjadi perempuan yang labil, ugal-ugalan dan permisif. Ia menjadi simpanan seorang bos, suka dugem, dan tinggal di apartemen. Ia juga berpacaran dengan seorang penulis senior yang sudah beristri. Yang unik dari si tokoh ini adalah, meski suka semau gue, ia menjadi anak manis di depan ibunya. Ia takluk oleh bayang-bayang otoritas mama. Kisahnya berkisar pada proses pengendapan trauma dan “pemberontakan” terhadap kungkungan otoritas dipadu dengan kegelisahan kreatif tanpa henti dari seorang perempuan yang hendak merefleksikan pengalaman tersebut ke dalam tulisan-tulisannya.

Selanjutnya baca di adiwicaksono.com

Ia Tidak Sedang Sendirian

Apr 15

PEREMPUAN itu duduk dengan tubuh condong ke meja di depannya. Pandangan matanya mengarah lurus ke depan. Tangan kirinya memegang rokok sementara tangan kanan yang sikunya bertumpu di atas meja berusaha menutupi separuh wajahnya. Mulutnya komat kamit. Sesekali badannya semakin condong ke depan ketika ia sedang tidak komat-kamit, seolah ingin menyimak benar setiap perkataan lawan bicaranya yang mungkin berucap dengan suara pelan. Padahal ia sedang sendirian.

read all »