Jan 14

wednesday 13th
“SAIA”, film terbaru Djenar Maesa Ayu, tidak seperti film-film Antonioni yang menanggalkan pakaian semua karakternya di menit pertama. Karena di menit pertama dalam “SAIA” kedua karakternya (mungkin bernama Saya dan Ia) memang sudah tidak berpakaian. Yang menempel di tubuh dua aktornya — Harry Dagoe dan Djenar sendiri — hanya tato, lebam dan keringat.*
read all »
Jan 10

Dear Monyet,
Selamat natal dan tahun baru 2010!
Ini mungkin bakal jadi tahun yang tidak mudah buat kamu, terutama setelah Mereka Bilang, Saya Monyet! memenangkan tiga Piala Citra dan satu Penghargaan Khusus Dewan Juri dalam FFI 2009. Sekarang pasti banyak orang sedang menunggu film kedua kamu. Eh… persisnya, film berikutnya, karena sebetulnya kamu sudah menyelesaikan film kedua, yang sejak awal memang tidak akan diputar untuk umum di Indonesia.
read all »
Jan 10
Untuk Djenar Maesa Ayu
il miglior fabbro
Saia adalah monolog tanpa suara. Sebuah proses berbagi dari seorang subjek kepada sesama melalui mediasi nilai-nilai estetika tersembunyi. Dua jendela terpisah dalam satu bangunan rapuh. Tak ada beton penyangga, ataupun tembok pemisah. Yang ada hanyalah geribik tipis, menandakan demarkasi ruang namun tetap saja tertembus sinaran mentari melalui relung-relungnya. Dua jendela tersebut menandakan kesempitan, keterbatasan yang secara paradoksal membuka ranah luas bagi keterwujudan tanpa batas.

Anggi "Cumit" was shooting SAIA
read all »
May 10

Mungkin, saya tidak lebih layak untuk mempresentasikan Sjuman Djaya yang akrab saya panggil Bung, baik dari sudut pandang Sinematografi bahkan sebagai anak, dibanding kedua anak Bung Sjuman yang lain dari hasil pernikahan pertamanya dengan Farida Oetoyo, Arya Yudistira Sjuman dan Sri Aksana Sjuman. Kenapa? Pertama, saya penikmat. Bukan pengamat. Kedua, dibanding kedua kakak saya, kualitas maupun kuantitas pertemuan saya dengan Bung Sjuman sendiri terbilang yang paling minim.
Beruntung Bung Sjuman mengambil jalur seni semasa hidupnya, sehingga karya-karyanya maupun kiprahnya sebagai seorang seniman, memungkinkan saya atau siapapun, tetap punya kesempatan untuk mengenal beliau lebih jauh.
read all »
Apr 19

Tidak ada seorang pun yang tak suka uang. Saya, apalagi. Tapi yang namanya uang, tidak suka orang. Karena itu mustahil mengharapkan uang mengetuk pintu rumah dan langsung lompat ke tangan. Uang tahu kalau ia begitu dibutuhkan. Maunya dicari, tak mau begitu saja datang.
Celakanya, walaupun saya suka uang, saya tidak suka mencari uang. Mendengar kata “bekerja” rasanya malas betul! Cuma apa mau dikata, saya tidak seberuntung orang-orang yang kekayaannya tidak habis dimakan tujuh turunan. Satu turunan saja hidup saya pas-pasan. Jadi mau tak mau saya harus bekerja, walaupun sekali lagi, rasanya malas betul!
read all »