Photos Gallery

yiyi, mommy, nyunyu rodma ucit's bday philo art space berenang dma,djaduk,tegoeh anjas,dma maya,virny,dma eka di "kafe betawi":) djenar-yiyi Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 7 Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 6
View more photos >
 

Posts in ‘Cerpen’

Di Tangan Borjuis Kelontong, Film Hanya Barang Dagangan

Apr 03

Drs. Sjuman Djaya

Kalau kita coba menilai film dalam hubungan dengan kultur pop yang kini berkembang di Indonesia, maka jelas dia merupakan media massa. Lantas kita bertanya mengenai fungsi film ini; mau kemana perkembangan film Indonesia? Ini sebuah pertanyaan lama. Festival-festival film telah mengemukakan pertanyaan serupa yang dianggap kontroversi. Pertanyaan ini saja sudah menunjukkan kegelisahan dalam kalangan orang-orang film sendiri.

read all »

Tickling Twitter

Feb 15

The Jakarta Post | Sun, 02/12/2012 1:56 PM

Noted writer Djenar Maesa Ayu comes up with another short story collection, T(w)itit!, based on her own Twitter posts.

The launch of the anthology came as a surprise for readers and fans expecting her second novel Ranjang (Bed), which has been halted for about four years due to her hectic film industry schedule.

Instead, Djenar, famous for exploring female sexuality in her writing, released the short story anthology on Jan. 14, the date of her 39th birthday.

T(w)itit! is Djenar’s fifth short story compilation, after Mereka Bilang Saya Monyet! (They Say I’m a Monkey!), Jangan Main-main Dengan Kelaminmu (Don’t Play with your Genitals), Cerita Pendek Tentang Cerita Pendek (Short Story about a Short Story) and 1 Perempuan, 14 Laki-laki (One Woman, 14 Men). Her first novel, Nayla, was launched back in 2005.

This time around, she takes inspiration from her 11 Twitter posts. With more than 63,000 followers at the time of the book launch, Djenar is widely known for her poetic tweets that are unlike the grumbling or swearing of other Twitter users.

read all »

T(w)ITIT, Bukan Sekadar Buku Kumpulan Tweet

Jan 21

KAMIS, 12 JANUARI 2012

JAKARTA, PedomanNEWS.com - Dengan jumlah follower lebih dari 62.000, @djenarmaesaayu adalah salah satu akun terbesar dan terpopuler di Indonesia. Pemiliknya siapa lagi kalau bukan Djenar Maesa Ayu, penulis perempuan muda Indonesia. Dari akun inilah terpilih sebelas tweet Djenar yang kemudian dikembangkan menjadi cerita pendek.

‘Kehilangan adalah proses awal menemukan’, ‘Hidup bukan untuk mencari perhentian tapi untuk melakukan perjalanan’, ‘Jika ada anak panah yang menusukmu, berharaplah itu bukan berasal dari busur jenuhku’, adalah contoh beberapa tweet yang dikembangkan menjadi cerita di dalam buku ini.

Banyak pembaca Djenar yang kemudian meneruskan kalimat-kalimat itu dengan me-retweet-nya, tapi kadang ada juga yang salah arti dan salah tangkap hingga kege-eran. Untuk hal yang satu ini, Djenar pun menuliskan: “Status twitter oleh beberapa orang sering ditengarai sebagai isyarat. Sorry, kamu salah alamat!’.

Rencananya, pada Sabtu (14/01) akhir pekan ini Djenar akan merilis sebuah buku miliknya yang berjudul T(wiITIT! di Jakarta Selatan. Acara yang akan dimeriahkan oleh Urban Music Corner, Kaka Slank, Andi /Rif, dan Iwa K ini akan dipandu oleh MC Indra Herlambang. Buku T(w)ITIT! sendiri akan mulai dipasarkan pada 27 Januari di toko-toko buku langganan Anda.

Taufik H Karepesina


“ORGY” YANG SUNYI

May 02

Oleh Ibnu Rizal

Harian Kompas Minggu 1 Mei 2011

Kesepian, kehampaan, cinta yang bertepuk sebelah tangan, pengkhianatan, perselingkuhan, hubungan cinta yang berada di ambang keraguan, dan berbagai perasaan murung yang menimpa anak manusia melatari fragmen cerita. Relasi antartokoh pun menjadi sesuatu yang rapuh dan muram.

Tema di atas diperkuat dengan hadirnya kafe sebagai latar spesial yang mendominasi sebagian besar cerpen, seperti banyak karya Djenar Maesa Ayu lainnya. Kafe menjadi arena pertarungan para tokohnya. Di dalamnya, tokoh-tokoh Djenar, manusia-manusia kelas menengah kota yang kesepian itu, berhadapan satu lawan satu dengan dirinya sendiri. Bersama gelas-gelas bir, terkadang secangkir kopi, mereka bertarung dan bernegosiasi dengan kenangan.

Antologi ini ditulis Djenar bersama empat belas penulis lain, yang seluruhnya adalah laki-laki. Mereka datang dari berbagai profesi dan lintas generasi, di antaranya adalah maestro tari Sardono W Kusumo, penari dan koreografer muda Arya Yudistira Syuman, perupa Enrico Soekarno, pembawa acara dan penulis Indra Herlambang, cerpenis Agus Noor, dalang Sujiwo Tedjo, aktor monolog Butet Kartaredjasa, hingga penabuh drum dari kelompok musik punk Superman Is Dead, JRX. Empat belas penulis dengan empat belas kepala yang memiliki gagasan berbeda. Metode ini memang sangat berisiko menjadikan sebuah teks kehilangan arah. Struktur kalimat pun terpecah-pecah. Pada beberapa bagian kerap terjadi inkoherensi. Namun, justru di sinilah letak permainannya.

read all »

CAT HITAM BERJARI ENAM

Feb 08

DJENAR MAESA AYU & ENRICO SOEKARNO

Di kepalanya ada setan. Yang dengan tiba-tiba menggerakkan tangan. Membuatnya meraih cat minyak warna hitam. Lalu ke atas kanvas dia torehkan. Tapi mendadak dia terpaku diam. Bingung. Bertanya dalam hati, apakah benar bahwa tidak ada aturan dan segalanya dibolehkan?

read all »

IMAJI YANG MEMUDAR (SEKELEBAT INGATAN TENTANG BUNG SJUMAN DJAYA)

May 10

Mungkin, saya tidak lebih layak untuk mempresentasikan Sjuman Djaya yang akrab saya panggil Bung, baik dari sudut pandang Sinematografi bahkan sebagai anak, dibanding kedua anak Bung Sjuman yang lain dari hasil pernikahan pertamanya dengan Farida Oetoyo, Arya Yudistira Sjuman dan Sri Aksana Sjuman. Kenapa? Pertama, saya penikmat. Bukan pengamat. Kedua, dibanding kedua kakak saya, kualitas maupun kuantitas pertemuan saya dengan Bung Sjuman sendiri terbilang yang paling minim.

Beruntung Bung Sjuman mengambil jalur seni semasa hidupnya, sehingga karya-karyanya maupun kiprahnya sebagai seorang seniman, memungkinkan saya atau siapapun, tetap punya kesempatan untuk mengenal beliau lebih jauh.

read all »