Photos Gallery

yiyi, mommy, nyunyu rodma ucit's bday philo art space berenang dma,djaduk,tegoeh anjas,dma maya,virny,dma eka di "kafe betawi":) djenar-yiyi Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 7 Mereka Bilang, Saya Monyet (Behind the Scene) 6
View more photos >
 

T(w)ITIT, Bukan Sekadar Buku Kumpulan Tweet

Jan 21

KAMIS, 12 JANUARI 2012

JAKARTA, PedomanNEWS.com - Dengan jumlah follower lebih dari 62.000, @djenarmaesaayu adalah salah satu akun terbesar dan terpopuler di Indonesia. Pemiliknya siapa lagi kalau bukan Djenar Maesa Ayu, penulis perempuan muda Indonesia. Dari akun inilah terpilih sebelas tweet Djenar yang kemudian dikembangkan menjadi cerita pendek.

‘Kehilangan adalah proses awal menemukan’, ‘Hidup bukan untuk mencari perhentian tapi untuk melakukan perjalanan’, ‘Jika ada anak panah yang menusukmu, berharaplah itu bukan berasal dari busur jenuhku’, adalah contoh beberapa tweet yang dikembangkan menjadi cerita di dalam buku ini.

Banyak pembaca Djenar yang kemudian meneruskan kalimat-kalimat itu dengan me-retweet-nya, tapi kadang ada juga yang salah arti dan salah tangkap hingga kege-eran. Untuk hal yang satu ini, Djenar pun menuliskan: “Status twitter oleh beberapa orang sering ditengarai sebagai isyarat. Sorry, kamu salah alamat!’.

Rencananya, pada Sabtu (14/01) akhir pekan ini Djenar akan merilis sebuah buku miliknya yang berjudul T(wiITIT! di Jakarta Selatan. Acara yang akan dimeriahkan oleh Urban Music Corner, Kaka Slank, Andi /Rif, dan Iwa K ini akan dipandu oleh MC Indra Herlambang. Buku T(w)ITIT! sendiri akan mulai dipasarkan pada 27 Januari di toko-toko buku langganan Anda.

Taufik H Karepesina


“ORGY” YANG SUNYI

May 02

Oleh Ibnu Rizal

Harian Kompas Minggu 1 Mei 2011

Kesepian, kehampaan, cinta yang bertepuk sebelah tangan, pengkhianatan, perselingkuhan, hubungan cinta yang berada di ambang keraguan, dan berbagai perasaan murung yang menimpa anak manusia melatari fragmen cerita. Relasi antartokoh pun menjadi sesuatu yang rapuh dan muram.

Tema di atas diperkuat dengan hadirnya kafe sebagai latar spesial yang mendominasi sebagian besar cerpen, seperti banyak karya Djenar Maesa Ayu lainnya. Kafe menjadi arena pertarungan para tokohnya. Di dalamnya, tokoh-tokoh Djenar, manusia-manusia kelas menengah kota yang kesepian itu, berhadapan satu lawan satu dengan dirinya sendiri. Bersama gelas-gelas bir, terkadang secangkir kopi, mereka bertarung dan bernegosiasi dengan kenangan.

Antologi ini ditulis Djenar bersama empat belas penulis lain, yang seluruhnya adalah laki-laki. Mereka datang dari berbagai profesi dan lintas generasi, di antaranya adalah maestro tari Sardono W Kusumo, penari dan koreografer muda Arya Yudistira Syuman, perupa Enrico Soekarno, pembawa acara dan penulis Indra Herlambang, cerpenis Agus Noor, dalang Sujiwo Tedjo, aktor monolog Butet Kartaredjasa, hingga penabuh drum dari kelompok musik punk Superman Is Dead, JRX. Empat belas penulis dengan empat belas kepala yang memiliki gagasan berbeda. Metode ini memang sangat berisiko menjadikan sebuah teks kehilangan arah. Struktur kalimat pun terpecah-pecah. Pada beberapa bagian kerap terjadi inkoherensi. Namun, justru di sinilah letak permainannya.

read all »

CAT HITAM BERJARI ENAM

Feb 08

DJENAR MAESA AYU & ENRICO SOEKARNO

Di kepalanya ada setan. Yang dengan tiba-tiba menggerakkan tangan. Membuatnya meraih cat minyak warna hitam. Lalu ke atas kanvas dia torehkan. Tapi mendadak dia terpaku diam. Bingung. Bertanya dalam hati, apakah benar bahwa tidak ada aturan dan segalanya dibolehkan?

read all »

1 PEREMPUAN 14 LAKI-LAKI

Jan 12

Buku 1 PEREMPUAN 14 LAKI-LAKI adalah Buku Kumpulan Cerpen hasil kolaborasi saya dengan 14 sahabat dari pelbagai macam profesi:

• Agus Noor • Arya Yudistira Syuman • Butet Kartaredjasa • Enrico Soekarno • Indra Herlambang • JRX • Lukman Sardi • Mudji Sutrisno, SJ• Nugroho Suksmanto • Richard Oh • Robertus Robet • Sardono W. Kusumo • Sujiwo Tejo • Totot Indrarto

yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama dan siap didistribusikan pada tanggal 18 Januari 2011. Terima Kasih dan selamat membaca!

SAIA: MUSIK KAMAR YANG BERANI by Hikmat Darmawan

Jan 20

Film kedua Djenar Maesa Ayu akan dengan mudah dipahami sebagai film tentang seks. Memang, lebih dari 90% adegan dalam film itu adalah adegan seks dalam beberapa babak. Apalagi, Djenar memainkan sendiri secara total salah satu dari dua tokoh utama permainan seks di film ini. Maka, segeralah beberapa percakapan mencuat di antara para penonton film yang baru diputar untuk kalangan terbatas ini, seperti persoalan ketubuhan dan metafor voyeurism.

Redaktur Rumahfilm.org, Hikmat Darmawan, memandang film ini bukanlah “film tubuh”, melainkan “film kamera”. Menurutnya, Djenar tampak berhasil meluluhkan medium film, dan membuka banyak kemungkinan dengan kamera. Kemungkinan-kemungkinan yang tak baru, tapi terasa diabaikan oleh kebanyakan pembuat film Indonesia generasi kini.

Djenar juga berhasil menunjukkan sesuatu yang penting: keberanian untuk membuat alternatif. Dengan membuat filmnya tanpa dialog sedikit pun, Djenar tak kehilangan naratif. Banyak pilihan-pilihan estetis yang berani dalam film ini. Keberanian ini membuat Djenar seorang pembuat film yang tidak tipikal –bahkan jika kita segera mengenali Djenar, juga film ini, sebagai “anak zaman” yang lahir dari sebuah rahim kebudayaan tertentu di negeri ini.

read all »

SAIA: GAIRAH SANG SUTRADARA by Mikael Johani

Jan 14

wednesday 13th

“SAIA”, film terbaru Djenar Maesa Ayu, tidak seperti film-film Antonioni yang menanggalkan pakaian semua karakternya di menit pertama. Karena di menit pertama dalam “SAIA” kedua karakternya (mungkin bernama Saya dan Ia) memang sudah tidak berpakaian. Yang menempel di tubuh dua aktornya — Harry Dagoe dan Djenar sendiri — hanya tato, lebam dan keringat.*

read all »